Hotel-hotel di Thailand Lumpuh

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tentara Thailand berjaga-jaga di depan sebuah bar yang tutup di kawasan bisnisdi Bankok, akibat unjukrasa massa Baju Merah (24/4). REUTERS/Eric Gaillard

    Tentara Thailand berjaga-jaga di depan sebuah bar yang tutup di kawasan bisnisdi Bankok, akibat unjukrasa massa Baju Merah (24/4). REUTERS/Eric Gaillard

    TEMPO Interaktif, Bangkok -Menteri Keuangan Thailand Korn Chatikavanij puyeng tujuh keliling. Katanya, unjuk rasa yang berlangsung terus-menerus selama sebulan lebih ini bakal membuat perekonomian Thailand impoten. Padahal ia sudah menargetkan rasio pertumbuhan ekonomi negaranya bakal ereksi hingga 4,5 persen. "Kalau begini terus, bisa-bisa cuma 2 persen," ujarnya.

    Menteri Korn mengatakan, pawai aksi unjuk rasa yang digelar kelompok anti-pemerintah itu selama ini sudah berdampak pada rasio pertumbuhan ekonomi hingga lebih dari 0,5 persen. Salah satu sektor yang paling rentan, kata dia, adalah pariwisata. "Rasio pemesanan hotel di Phuket anjlok tinggal 12 persen," tutur Menteri Korn.

    Hal itu diiyakan Direktur Pemasaran Asosiasi Perhotelan Thailand Supawan Tanomkieatipume. Menurut Supawan, sudah sekitar 300 dari 1.000 hotel yang menjadi anggota asosiasinya menutup rapat-rapat pintu hotel atau memangkas jumlah kamar dan layanan menyusul sepinya pelancong yang menginap.

    "Andai kata situasi politik terus-menerus seperti ini selama tiga bulan," ujar Supawan, "tunggu saja bakal banyak pelaku bisnis perhotelan yang semaput." Sejak Selasa lalu, misalnya, Hotel Novotel di Taman Siam telah mengunci pintu rapat-rapat. Manajemen Novotel juga tak memberi batas waktu kapan pintu hotel akan dibuka lagi.

    Banyan Tree serta beberapa hotel berbintang besar dan kecil yang berlokasi di persimpangan Ratchaprasong, yang merupakan basis massa pendemo, telah menghentikan sebagian layanannya. Hotel lainnya, juga di kawasan itu, malah sudah jauh-jauh hari berhenti beroperasi.

    Sebut saja Hotel Grand Hyatt Erawan, Inter Continental Bangkok, Holiday Inn Bangkok, Four Seasons, dan Renaissance. Tiga restoran Hotel Dusit Thani malah sudah tak lagi menerima pengunjung. Rabu lalu Thailand Convention and Exhibition telah mengedarkan imbauan kepada para pelawat bisnis untuk menghindari Ratchaprasong dan Sala Daeng.

    Sehari sebelumnya, manajemen Hotel Twin Towers, yang punya 640 kamar, mengumumkan akan menutup hotelnya mulai Senin. Maklum saja, dari 640 kamar itu, cuma 240 yang terisi. "Sudah ada 300 pekerja hotel menganggur,” tutur Supawan. Maklumlah, sementara pada tahun lalu rasio tingkat hunian hotel-hotel di Bangkok mencapai 65 persen, kini tinggal 35 persen.

    Tapi CEO Minor International William Heinecke justru mengklaim bahwa hotel milik mereka, Four Seasons, sama sekali tak terpengaruh. Alasannya, 95 persen wilayah Bangkok tak terkena dampak unjuk rasa. "Kami aman-aman saja," kata Heinecke, yang perusahaannya mengelola 30 hotel di 14 negara. "Kami malah yakin akan mencapai target."

    Padahal Supawan menyebutkan, lebih dari 40 negara mengeluarkan peringatan kepada warganya agar menghindari Thailand. "Malah ada beberapa negara yang tak memasukkan Thailand ke daftar menu mereka," kata Supawan. Meski begitu, dia mengakui hotel-hotel yang berlokasi di Jalan Sukhumvit, Rama IX, dan Suvarnabhumi Airport aman-aman saja.

    ANN | BANGKOKPOST | ANDREE PRIYANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.