Hizbullah Makin Kuat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Puluhan massa dari Jama'ah Muslimin (Hizbullah) melakukan aksi di Kedubes Palestina, Jakarta, Rabu (28/10). Mereka mendukung perjuangan bangsa Palestina untuk menyelamatkan dan membebaskan Masjid Al-Aqsha dari zionis Israel. TEMPO/Subekti

    Puluhan massa dari Jama'ah Muslimin (Hizbullah) melakukan aksi di Kedubes Palestina, Jakarta, Rabu (28/10). Mereka mendukung perjuangan bangsa Palestina untuk menyelamatkan dan membebaskan Masjid Al-Aqsha dari zionis Israel. TEMPO/Subekti

    TEMPO Interaktif, Washington -Kekuatan Hizbullah dilaporkan makin pesat berkembang. Bahkan, menurut Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert Gates, milisi Syiah paling berkuasa di Libanon Selatan itu memiliki roket dan rudal lebih banyak ketimbang negara lain di dunia.

    Gates menuding Iran dan Suriah sebagai pemasok persenjataan bagi Hizbullah. "Hizbullah mempunyai jauh lebih banyak roket dan peluru kendali ketimbang sebagai besar negara di dunia," katanya.

    Komentar ini muncul setelah Gates mengadakan pertemuan dengan Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak di kantornya. Program nuklir Iran dan kekuatan militer Hizbullah menjadi bahasan utama kedua pejabat itu.

    Surat kabar Al-Rai dari Kuwait awal bulan ini melaporkan dugaan bahwa Suriah telah mengirim rudal Scud ke Hizbullah. Koran itu menyebutkan, Israel memperingatkan Suriah melalui Turki dan Qatar bahwa mereka bakal menyerang sasaran di Suriah dan Libanon jika peluru kendali itu bisa sampai ke tangan Hizbullah.

    Namun Damaskus membantah tudingan tersebut. Kementerian Luar Negeri Suriah menilai tuduhan negara Zionis itu bertujuan menciptakan ketegangan baru di Timur Tengah dan merupakan upaya menghindari proses perdamaian di kawasan tersebut.

    Sumber-sumber di Hizbullah mengakui bahwa mereka telah menerima kiriman Scud dari Suriah. Tapi peluru kendali yang dikirim sudah usang dan tidak dapat dipakai lagi. "Organisasi kami mempunyai banyak rudal dari darat ke darat yang ditempatkan di seantero Libanon bila Israel menyerang lagi," ujarnya.

    Kedua pihak pernah berperang pada Juli 2006 lantaran Hizbullah menculik dua tentara Israel bulan sebelumnya. Akibat perang 34 hari itu, lebih dari 1.200 orang, yang sebagian besar warga sipil Libanon, terbunuh. Sedangkan Israel kehilangan 160 nyawa, kebanyakan tentara.

    Presiden Mesir Husni Mubarak mencoba meredakan ketegangan. Ia meyakinkan Perdana Menteri Libanon Saad Hariri bahwa Israel tidak akan menyerang negaranya.

    Kepastian soal itu disampaikan pula oleh Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat Michael Oren. "Israel tidak bermaksud menyerang Libanon, Suriah, atau negara mana pun di Timur Tengah," katanya kepada stasiun televisi berita CNN.


    BBC | JERUSALEM POST | FAISAL ASSEGAF


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.