Selasa, 23 Oktober 2018

Ketegangan Rasial Bayangi Afrika Selatan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang warga kulit putih mendatangi lahan pertanian pemimpin kulit putih Eugene Terreblanch di  Ventersdorp, Afrika Selatan (5/4). AP/Schalk van Zuydam

    Seorang warga kulit putih mendatangi lahan pertanian pemimpin kulit putih Eugene Terreblanch di Ventersdorp, Afrika Selatan (5/4). AP/Schalk van Zuydam

    TEMPO Interaktif, Ventersdorp -Afrika Selatan beberapa hari ini diselimuti awan ketegangan rasial. Para pendukung tokoh pengobar supremasi kulit putih, Eugene Terreblanche, yang terbunuh Sabtu lalu, ramai-ramai mendatangi ladang pertanian Terreblanche untuk berkabung.

    Dugaan kematian Terreblanche akibat dibunuh telah memicu kecemasan meruyaknya kekerasan rasial. "Emosi sangat tinggi pada saat ini," kata Andre Nienabar, seorang kerabat Terreblanche, kemarin.

    Salah seorang anggota top Afrikaner Resistance Movement (AWB), yang didirikan Terreblanche, mengklaim kematian Terreblanche dalam pembunuhan brutal itu adalah "sebuah deklarasi perang" oleh orang kulit hitam terhadap orang kulit putih. AWB tersingkir sejak gagal berjuang memulihkan politik aparteid pada 1990-an.

    Polisi mengatakan pembunuhan itu tampaknya ujung dari sengketa upah antara dua buruh tani Terreblanche yang memukulinya dan gada saat dia tidur di ranjangnya pada Sabtu lalu.

    Para petinggi negeri langsung mencoba memadamkan ketegangan rasial yang muncul mengingat hanya sembilan pekan Afrika Selatan bakal didatangi 50 juta orang sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010.

    Presiden Jacob Zuma menyerukan ketenangan dan menyebut "ini kematian yang mengerikan". Dia meminta rakyat Afrika Selatan, "Jangan membiarkan agen-agen provokator mengambil keuntungan dari situasi ini dengan menyuntikkan atau menyulut kebencian rasial."

    Menteri Kepolisian Nathi Mthetwa kemarin menuturkan, Terreblanche diserang oleh seorang pria berusia 28 tahun dan seorang remaja 15 tahun, keduanya warga kulit hitam. Mthetwa menyebut keduanya telah ditangkap dan bakal disidang hari ini dengan tuduhan pembunuhan berencana.

    Terreblanche, 69 tahun, adalah pria karismatik dengan ciri cambang putih. Salah satu pendiri dan pemimpin gerakan AWB ini memimpikan sebuah republik yang berisi semua kulit putih dalam mayoritas warga kulit hitam Afrika Selatan. AWB punya lambang warna merah, putih, dan hitam dengan emblem mirip sebuah swastika Nazi, tapi dengan tiga sulur.

    Dia menguat mulai 1970-an ketika ada kebijakan pemerintah aparteid Afrika Selatan, dan mengancam mengambil alih negeri dengan kekuatan senjata jika supremasi kulit putih diakhiri. Dia juga dikenal sering datang dalam rapat di atas pelana kuda diiringi para pengawal yang bertopeng berbusana khaki atau hitam.

    Setelah dipenjara selama enam tahun karena penyerangan terhadap dua pekerja kulit hitam, namanya dipulihkan pada 2004 dengan temuan baru dalam kasusnya. Dia tinggal dalam lindungan keluarganya tahun-tahun belakangan ini di lahan pertaniannya di luar Ventersdorp, sekitar 110 km sebelah barat Johannesburg.

    Andre Visagie, anggota top AWB, menegaskan, kelompoknya akan membalas dendam atas kematian Terreblanche. Tapi dia tak memberikan perinciannya. "Kematian Mr. Terreblanche adalah sebuah deklarasi perang komunitas kulit hitam Afrika Selatan terhadap komunitas kulit putih yang telah diakhiri 10 tahun lalu."

    Ditambahkannya, kelompoknya akan mendesak tim-tim sepak bola membatalkan Piala Dunia demi keamanan. Visagie tak menyebut berapa jumlah warga yang berafiliasi ke AWB. Ketika pengaruhnya mencapai puncaknya pada awal 1990-an, diyakini AWB memiliki setidaknya 70 ribu anggota.

    Visagie menggemakan anggota kelompoknya yang menuduh pemimpin African National Congress Youth League (Liga Muda ANC), Julius Malema. Dia menyebut Malema, yang membiakkan pidato kebencian,-lah yang mendorong pembunuhan Terreblanche.

    Bulan lalu, Malema membuat kontroversi saat memimpin para mahasiswa dalam sebuah lagu yang memasukkan lirik Bunuh The Boer. Boer adalah kaum petani kulit putih di Afrikaans--istilah yang merujuk pada awal penjajahan Belanda atau Afrikaner dan sering dipakai sebagai penghinaan.

    Lagu itu memicu pertikaian hukum ketika partai yang berkuasa, ANC, ditantang di pengadilan tinggi bahwa lirik-liriknya tak konstitusional. Namun ANC berkukuh bahwa lagu itu punya nilai sejarah budaya dan bahwa liriknya--yang menyebut para petani sebagai pencuri dan pemerkosa--tak dimaksudkan secara harfiah dan karena itu bukan pidato kebencian.

    ANC membantah para pengikut Terreblanche. "Warga kulit hitam tak pernah mendeklarasikan perang terhadap warga apa pun di Afrika Selatan," kata juru bicara ANC, Jackson Mthembu, kepada AP, Minggu lalu. Malema menolak bertanggung jawab atas insiden tersebut saat melawat ke Zimbabwe kemarin.

    Apa pun motif pembunuhan Terreblanche, kasus itu mulai membuka polarisasi rasial 16 tahun lalu setelah berakhirnya politik aparteid.

    AP | BBC | GUARDIAN | TELEGRAPH | DWI ARJANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Saham Lippo yang Jebol dan yang Melambung Dihantam Kasus Meikarta

    Jebloknya saham perusahaan-perusahaan Grup Lippo telah dimulai Selasa 16 Oktober 2018, sehari setelah KPK menangkap dan menetapkan Bupati Bekasi.