Georgia dan Swedia Kebagian Tahanan Guatanamo  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP/Brennan Linsle

    AP/Brennan Linsle

    TEMPO Interaktif, Tiga mantan tahanan Amerika Serikat di Teluk Guantanamo dikirimkan ke negara pecahanan Uni Soviet, Georgia, dan  ke Swedia.

    Pejabat Amerika tak menjelaskan detail identitas ketiga pria yang dikirimkan ke Georgia, tetapi menteri Georgia menyebutkan mereka berasal dari Timur Tengah. Sementara informasi lain menyebutkan dua orang yang dikirimkan ke Swedia dari suku bangsa Cina Uighur.

    Juru bicara Menteri Dalam Negeri Georgia Shota Utiashvili membenarkan, Selasa waktu setempat, bahwa ketiga tahanan berasal dari "Negara-negara di Timur Tengah."

    "Mereka akan dibebaskan, mereka akan hidup layaknya warga negara lainnya dan memiliki hubungan permanen dengan keluarganya," ujarnya.

    Kepala Dewan Keamanan Nasional Georgia Eka Tkeshelashvili mengatakan di Tblisi, negaranya sepakat menerima tahanan Guantanamo sebagai bagian dari upaya membangun hubungan yang lebih erat dengan Washington. "Dari awal saat ada keinginan untuk kerjasama, kami memulai negosiasi sebab kami ingin membantu."

    Georgia merupakan salah satu negara anggota aliansi Amerika yang mengirimkan pasukannya ke Afganistan yang dipimpin oleh NATO. Negeri ini berusaha mengumpulkan dukungan asing sejak kekalahan dalam perang singkat dengan Rusia pada musim panas tahun 2008 ketika menghadapi separatis Ossetia Selatan.

    "Kami sangat menghargai upaya pemerintah Georgia bergabung bersama kami untuk menutup fasilitas penjara di Teluk Guantanamo," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Philip Crowley di Washington.

    Sementara itu menurut kantor berita The Associated Press, sedikitnya 80 tahanan Guantanamo diharapkan bisa diadili di Amerika Serikat atau tetap mendekam dalam penjara tanpa tuduhan. Sedangkan lebih dari 100 tahanan lainnya disetujui dikirimkan ke negara-negara lain.

    BBC | CHOIRUL



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.