Dua Anggota DPR AS Kunjungi Afghanistan Saat Situasi Genting, Untuk Apa?

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang tentara AS memberikan minum kepada seorang bocah yang telah dievakuasi di Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul, Afghanistan, 20 Agustus 2021. Sgt. Samuel Ruiz/U.S. Marine Corps/Handout via REUTERS

    Seorang tentara AS memberikan minum kepada seorang bocah yang telah dievakuasi di Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul, Afghanistan, 20 Agustus 2021. Sgt. Samuel Ruiz/U.S. Marine Corps/Handout via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Dua anggota DPR AS melakukan perjalanan ke Afghanistan pada Selasa, memicu peringatan dari Ketua DPR Nancy Pelosi, yang mengatakan perjalanan itu dapat mengalihkan sumber daya dari evakuasi orang Amerika dan orang Afghanistan yang berisiko.

    Anggota DPR Seth Moulton, seorang Demokrat, dan Peter Meijer, seorang Republikan, keduanya bertugas dalam perang Irak sebelum mencalonkan diri sebagai anggota Kongres AS, mengatakan mereka pergi ke Kabul untuk mengumpulkan informasi sebagai bagian dari peran pengawasan Kongres.

    "Amerika memiliki kewajiban moral kepada warga dan sekutu setia kami, dan kami harus memastikan bahwa kewajiban itu dipatuhi," kata mereka dalam sebuah pernyataan yang dirilis setelah mereka melihat kondisi di bandara Kabul, dikutip dari Reuters, 25 Agustus 2021.

    Saat kunjungan mereka diumumkan, Nancy Pelosi mengirim surat kepada anggota DPR AS yang tidak menyebut Moulton atau Meijer, tetapi memperingatkan bahwa Pentagon dan Departemen Luar Negeri AS telah meminta anggota parlemen untuk tidak melakukan perjalanan ke Afghanistan selama masa bahaya.

    Pelosi, seorang Demokrat, mengatakan kepada wartawan sejumlah besar anggota DPR ingin pergi ke Afghanistan, tetapi dia mengatakan dalam surat itu perjalanan seperti itu tidak bijaksana.

    "Perjalanan anggota ke Afghanistan dan negara-negara sekitarnya akan secara tidak perlu mengalihkan sumber daya yang dibutuhkan dari misi prioritas untuk mengevakuasi Amerika dan Afghanistan yang berisiko dari Afghanistan dengan aman dan cepat," katanya.

    Marinir yang ditugaskan di Unit Ekspedisi Marinir (MEU) ke-24 menggendong bayi selama proses evakuasi di Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul, Afghanistan, 20 Agustus 2021. Cuaca terik dan ekerasan yang sempat pecah di kawasan bandara membuat bayi dan anak-anak merasa tidak nyaman. Sersan. Isaiah Campbell/AS Korps Marinir/Handout melalui REUTERS

    Moulton dan Meijer mengatakan mereka meninggalkan Kabul di pesawat dengan kursi kosong dan mereka duduk di kursi khusus kru untuk memastikan tidak ada orang yang kehilangan slot evakuasi saat kunjungan mereka.

    Anggota parlemen mengatakan sebelum kunjungan, mereka ingin Presiden Joe Biden memperpanjang tenggat waktu 31 Agustus agar evakuasi selesai dan pasukan AS meninggalkan negara itu.

    "Setelah berbicara dengan komandan di lapangan dan melihat situasi di sini, jelas bahwa karena kami memulai evakuasi sangat terlambat, apa pun yang kami lakukan, kami tidak akan mengeluarkan semua orang tepat waktu, bahkan pada 11 September," kata mereka.

    Joe Biden mendapat kecaman karena tidak memulai evakuasi lebih cepat dan karena kekacauan di bandara Kabul, di mana orang Amerika dan warga Afghanistan yang rentan diterbangkan ke luar negeri setelah pengambilalihan Taliban.

    Presiden Joe Biden mengatakan pada Selasa bahwa pasukan AS sekarang telah membantu mengevakuasi 70.700 orang sejak 14 Agustus. Dia mengatakan Amerika Serikat sedang meningkatkan kecepatan evakuasi dari Afghanistan pada 31 Agustus, tetapi mencapai tujuan itu tergantung pada kerja sama yang berkelanjutan dari Taliban.

    Baca juga: Joe Biden Direkomendasikan Tak Perpanjang Masa Evakuasi di Afghanistan

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.