Polisi Israel Pembunuh Pria Palestina Penyandang Autisme

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota polisi Israel terlibat bentrok dengan warga Palestina di kompleks Masjid Al Aqsa, di Kota Tua Yerusalem, 10 Mei 2021. Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan lebih dari 180 warga Palestina terluka dan sekitar 80 orang di antaranya harus dilarikan ke rumah sakit, seperti dikutip dari Reuters, Senin, 10 Mei 2021. REUTERS/Ammar Awad

    Anggota polisi Israel terlibat bentrok dengan warga Palestina di kompleks Masjid Al Aqsa, di Kota Tua Yerusalem, 10 Mei 2021. Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan lebih dari 180 warga Palestina terluka dan sekitar 80 orang di antaranya harus dilarikan ke rumah sakit, seperti dikutip dari Reuters, Senin, 10 Mei 2021. REUTERS/Ammar Awad

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang polisi Israel didakwa pasal pembunuhan dalam pembunuhan seorang pria Palestina penyandang autisme di Yerusalem tahun lalu, kata Kementerian Kehakiman Israel pada Kamis.

    Iyad al-Halaq, 32 tahun, sedang dalam perjalanan menjadi sukarelawan di sekolah berkebutuhan khusus pada 30 Mei 2020, ketika polisi mengejar dan membunuhnya.

    Petugas, yang tidak disebutkan namanya dalam dakwaan yang dirilis, menghadapi hukuman penjara hingga 12 tahun jika terbukti bersalah.

    "Pada saat kematiannya, Halaq tidak memegang apa pun di tangannya dan tidak melakukan apa pun yang membenarkan terdakwa menembak bagian atas tubuhnya sehingga mengambil risiko yang tidak masuk akal bahwa ia akan menyebabkan kematian Iyad," kata dakwaan, dikutip dari Reuters, 17 Juni 2021.

    ADVERTISEMENT

    Warga Palestina telah lama mengeluhkan taktik keras oleh polisi dan tentara Israel di Yerusalem Timur dan Tepi Barat yang diduduki. Para pengunjuk rasa menyamakan kasus Halaq dengan pembunuhan warga Afrika-Amerika George Floyd di Amerika Serikat oleh polisi.

    "Tidak ada yang akan membawa kita pada keadilan. Tidak ada yang akan menghidupkan kembali putra saya," kata ibu Halaq, Rana.

    "Petugas lain terlibat dalam pembunuhannya. Di mana dakwaan buat mereka?" katanya, "bukan hal yang sulit melihat bahwa anak saya difabel. Semua orang bisa melihatnya."

    Polisi Israel mengatakan petugas hanya menggunakan kekerasan atau melepaskan tembakan jika diperlukan, dan insiden seperti kematian Halaq diselidiki.

    Dokumen dakwaan mengatakan Halaq tidak bersenjata dan mengenakan masker wajah dan sarung tangan virus corona di Kota Tua Yerusalem ketika polisi pertama kali melihatnya, dan mencurigainya membawa senjata.

    Mereka menyuruhnya berhenti dalam bahasa Arab dan Ibrani dan memberi tahu pasukan lain melalui radio bahwa ada tersangka penyerang. Dua polisi perbatasan paramiliter yang menerima peringatan radio melihat Halaq melarikan diri dan memintanya untuk berhenti, kata surat dakwaan.

    Ketika Halaq terus berlari, dua polisi yang lebih senior menembak ke arah kakinya dan meleset. Mereka kemudian mengejar Halaq ke tempat penyimpanan sampah di mana polisi Israel junior menembak perut Halaq, kata surat dakwaan.

    Baca juga: Diduga Ingin Serang Tentara Israel, Wanita Palestina Ditembak Mati

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selain Makan di Warteg, Ini Sejumlah Kegiatan Asyik yang Bisa Dilakukan 20 Menit

    Ternyata ada banyak kegiatan positif selain makan di warteg yang bisa dilakukan dalam waktu 20 menit. Simak sejumlah kegiatan berikut...