Biarawati Myanmar Bersujud Memohon ke Polisi Agar Tidak Menembaki Pengunjuk Rasa

Biarawati Francis Xavier bernama Nu Thawng, muncul sendirian di depan polisi anti huru hara yang berlapis tameng baja, dalam beberapa gambar yang dibagikan di Twitter oleh Uskup Agung Yangon, Uskup Agung Charles Maung Bo.[Twitter @CardinalMaungBo]

TEMPO.CO, Jakarta - Seorang biarawati Myanmar terlihat bersujud memohon kepada polisi agar tidak menembak pengunjuk rasa anti-kudeta Myanmar setelah demonstrasi berdarah memakan belasan korban jiwa pada Ahad.

Foto biarawati itu dibagikan di media sosial oleh tokoh Katolik terkemuka Myanmar, ketika demonstrasi menentang kudeta semakin menimbulkan banyak korban jiwa.

Biarawati Francis Xavier bernama Nu Thawng, muncul sendirian di depan polisi anti huru hara yang berlapis tameng baja, dalam beberapa gambar yang dibagikan di Twitter oleh Uskup Agung Yangon, Uskup Agung Charles Maung Bo, seorang kritikus vokal atas kudeta militer, dikutip dari surat kabar The Catholic Leader, 1 Maret 2021.

"Hari ini, kerusuhan telah parah di seluruh negeri. Polisi menangkap, memukuli, dan bahkan menembaki masyarakat. Dengan penuh air mata, biarawati Ann Nu Thawng memohon & menghentikan polisi untuk berhenti menangkap para pengunjuk rasa. Sekitar 100 pengunjuk rasa bisa melarikan diri dari polisi karena suster itu," cuit Kardinal Charles Maung Bo di Twitter pada Senin.

Biarawati Francis Xavier bernama Nu Thawng, muncul sendirian di depan polisi anti huru hara yang berlapis tameng baja, dalam beberapa gambar yang dibagikan di Twitter oleh Uskup Agung Yangon, Uskup Agung Charles Maung Bo.[Twitter @CardinalMaungBo]

Polisi Myanmar telah menembaki pengunjuk rasa pada 28 Februari, menjadikan demonstrasi hari Minggu sebagai hari paling berdarah sejak protes menentang kudeta dimulai.

"Kedamaian itu mungkin. Damai adalah satu-satunya cara. Demokrasi adalah satu-satunya cahaya ke jalan itu," kicau Twitter Kardinal Bo, yang merupakan ketua Konferensi Waligereja Myanmar.

Dikutip dari Reuters, Kardinal Bo menggambarkan negaranya seperti medan perang.

Di Yangon, seorang guru bernama Tin New Yee meninggal setelah polisi membubarkan protes guru dengan granat setrum, membuat kerumunan melarikan diri, kata putrinya dan seorang rekan guru.

Polisi juga melemparkan granat setrum di luar sekolah kedokteran Yangon, menyebabkan dokter dan mahasiswa yang memakai jas lab putih berlarian.

Sebuah kelompok yang disebut Aliansi medis Whitecoat mengatakan lebih dari 50 staf medis telah ditangkap.

Junta militer belum berkomentar sejak 18 orang tewas ditembaki polisi pada demonstrasi Ahad.

Para pengunjuk rasa berlindung saat mereka bentrok dengan petugas polisi anti huru hara selama protes terhadap kudeta militer di Yangon, Myanmar, 28 Februari 2021. [REUTERS / Stringer]

Pada Senin Pengadilan Myanmar mengajukan dakwaan lain terhadap Aung San Suu Kyi pada, kata seorang pengacara yang mewakilinya, ketika pengunjuk rasa kembali berunjuk rasa menentang tindakan keras oleh pasukan keamanan yang menewaskan sedikitnya 18 orang pada hari sebelumnya.

Baca juga: Dukung Rakyat Myanmar, Aktivis Indonesia Gelar Aksi Pukul Panci

Pemimpin Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) itu tidak terlihat di depan umum sejak pemerintahannya digulingkan dalam kudeta militer 1 Februari, dan dia ditahan bersama dengan para pemimpin partai lainnya.

Saat Suu Kyi muncul di sidang pengadilan video, polisi di kota utama Yangon menggunakan granat kejut dan gas air mata untuk membubarkan pengunjuk rasa, kata saksi mata, sehari setelah kekerasan terburuk sejak kudeta.

Sejauh ini belum ada laporan langsung tentang korban pada hari Senin.

Tom Andrews, pelapor khusus PBB untuk hak asasi manusia di Myanmar, mengatakan jelas serangan junta akan terus berlanjut sehingga komunitas internasional harus meningkatkan tanggapannya.

Dia mengusulkan embargo senjata global, lebih banyak sanksi dari lebih banyak negara terhadap mereka yang berada di balik kudeta Myanmar, sanksi terhadap bisnis junta militer, dan rujukan Dewan Keamanan PBB ke Mahkamah Kejahatan Internasional untuk mereka yang bertanggung jawab kekerasan di Myanmar.

THE CATHOLIC LEADER | REUTERS






Aung San Suu Kyi dan Penasihat asal Australia Dihukum 3 Tahun

21 jam lalu

Aung San Suu Kyi dan Penasihat asal Australia Dihukum 3 Tahun

Pengadilan Myanmar menghukum pemimpin terguling Aung San Suu Kyi dan mantan penasihat ekonominya, Sean Turnell dari Australia, 3 tahun penjara


Ratu Kecantikan Myanmar Akhirnya Mendarat di Kanada, Berbulan-bulan Tinggal di Bandara Thailand

1 hari lalu

Ratu Kecantikan Myanmar Akhirnya Mendarat di Kanada, Berbulan-bulan Tinggal di Bandara Thailand

Ratu Kecantikan Myanmar menuai perhatian publik atas komentar pedasnya terhadap junta militer. Dia akhirnya mendapat suaka dari Kanada.


Sempat Terlunta-lunta di Thailand, Ratu Kecantikan Myanmar Dapat Suaka di Kanada

2 hari lalu

Sempat Terlunta-lunta di Thailand, Ratu Kecantikan Myanmar Dapat Suaka di Kanada

Mantan ratu kecantikan Myanmar itu telah terlunta-lunta sejak 21 September di Thailand.


Amerika Gelontorkan Rp 2,5 Triliun untuk Bantu Etnis Rohingya

6 hari lalu

Amerika Gelontorkan Rp 2,5 Triliun untuk Bantu Etnis Rohingya

Total bantuan AS dalam menanggapi Krisis Pengungsi Rohingya telah mencapai hampir US$1,9 miliar (Rp 28 triliun) sejak Agustus 2017.


Jepang Setop Kerja Sama Beri Pelatihan Militer ke Myanmar

6 hari lalu

Jepang Setop Kerja Sama Beri Pelatihan Militer ke Myanmar

Akibat eksekusi junta militer terhadap aktivis pro-demokrasi, Jepang menghentikan pemberian latihan militer untuk Myanmar.


Retno Marsudi Menyoroti Krisis Rohingya Makin Memburuk

6 hari lalu

Retno Marsudi Menyoroti Krisis Rohingya Makin Memburuk

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi melihat penyelesaian krisis Rohingya ini dipersulit oleh situasi di Myanmar.


Menlu ASEAN Bertemu di New York Bahas Persiapan KTT

6 hari lalu

Menlu ASEAN Bertemu di New York Bahas Persiapan KTT

Para menteri luar negeri ASEAN bertemu di sela-sela Sidang Umum ke-77 PBB di New York untuk membahas persiapan KTT November 2022


Helikopter Militer Myanmar Menembak Sekolah, 7 Anak Tewas Belasan Terluka

9 hari lalu

Helikopter Militer Myanmar Menembak Sekolah, 7 Anak Tewas Belasan Terluka

Helikopter militer Myanmar dilaporkan menembaki sebuah sekolah, akibatnya sedikitnya 7 anak tewas dan belasan lainnya terluka


Retno Marsudi dan Antonio Guterres Bahas Myanmar

11 hari lalu

Retno Marsudi dan Antonio Guterres Bahas Myanmar

Retno Marsudi membahas soal krisis di Myanmar dalam pertemuan dengan Antonio Guterres di New York.


Pemakaman Ratu Elizabeth II: Berikut Daftar Undangan, Siapa yang Tidak Diundang?

12 hari lalu

Pemakaman Ratu Elizabeth II: Berikut Daftar Undangan, Siapa yang Tidak Diundang?

Pemakaman Ratu Elizabeth II pada 19 September nanti akan dihadiri 2.200 orang. Berikut daftar undangan, tapi siapa yang tak diundang?