Teroris Penembakan di Jerman adalah Ekstremis Sayap Kanan

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi berjalan di luar bar Midnight Shisha setelah penembakan di Hanau, dekat Frankfurt, Jerman, 20 Februari 2020.[REUTERS]

    Polisi berjalan di luar bar Midnight Shisha setelah penembakan di Hanau, dekat Frankfurt, Jerman, 20 Februari 2020.[REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang pria bersenjata api membunuh sembilan orang di dua bar shisha selama penembakan di Jerman dan diyakini memiliki latar belakang sayap kanan ekstrem.

    Serangan itu terjadi pada Rabu malam di beberapa lokasi di Kota Hanau, dekat Frankfurt. Jaksa federal menyebut penembakan massal ini sebagai tindakan terorisme. Ini adalah teror paling mematikan di Jerman dalam beberapa tahun terakhir.

    Dikutip dari CNN, 21 Februari 2020, pihak berwenang percaya tersangka yang diidentifikasi Tobias Rathjen, 43 tahun, kembali ke rumah setelah melakukan penembakan dan menembak dirinya sendiri. Dia ditemukan tewas di apartemennya Kamis pagi bersama dengan tubuh ibunya yang berusia 72 tahun. Keduanya meninggal karena luka tembak, menurut menteri dalam negeri wilayah itu, Peter Beuth.

    Kanselir Angela Merkel mengatakan tersangka tampaknya bertindak sebagai ekstremis sayap kanan dengan motif rasis, dan menggambarkan kebencian sebagai racun dalam masyarakat Jerman. Jaksa mengatakan tersangka tidak memiliki catatan kriminal tetapi telah mengunggah manifesto dan teori konspirasi xenofobik secara online.

    Tobias Rathjen dalam video yang diunggah di internet beberapa hari sebelum melakukan penembakan massal di Hanau, Jerman. [media sosial/Times of Israel]

    Kejadian bermula sekitar pukul 10 malam dan tampaknya berpusat di sekitar dua bar shisha yang populer di kalangan imigran. Setelah melepaskan tembakan ke bar shisha Midnight, tersangka kemudian melarikan diri dengan mobil ke Arena Bar dan Cafe, tempat serangan berlanjut.

    Bar shisha pertama kali dibuka di komunitas Turki di Hanau, dan dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi populer di kalangan anak muda Jerman.

    Kadir Koese, seorang pengusaha 38 tahun yang menjalankan bar di seberang salah satu bar yang diserang, mengatakan ia mendengar suara tembakan.

    "Ada seorang lelaki berbaring di trotoar, ditembak di kepala, saya kira. Tetangga saya mengatakan 'merunduk'. Kemudian polisi datang dengan cepat," katanya kepada Reuters.

    Can-Luca Frisenna, yang anggota keluarganya menjalankan salah satu bar yang diserang, mengatakan ia bergegas ke tempat kejadian setelah mendengar tentang penembakan itu.

    "Saya mendengar ayah saya terpengaruh dan adik lelaki saya, mereka mengelola kios," kata Frisenna kepada Reuters. "Mereka takut dan menangis."

    Reuters melaporkan lima korban meninggal di antaranya adalah warga negara Turki, menurut Dubes Turki di Berlin mengatakan kepada media Turki TRT Haber. Korban lain satu orang Bosnia, satu orang dari Polandia, dan warga Jerman yang berusia antara 21 sampai 44 tahun.

    Tersangka penembak meninggalkan video dan manifesto 24 halaman di mana ia mengatakan orang-orang tertentu "harus dihancurkan sepenuhnya", menurut laporan berita Jerman, dikutip dari Times of Israel.

    Manifesto menyerukan untuk menghilangkan seluruh negara, termasuk Israel, Mesir, Maroko, Turki, Iran, India, Pakistan, Vietnam, dan Filipina.

    Serangan itu adalah yang terbaru dalam serangkaian serangan profil tinggi oleh ekstrimis sayap kanan dalam beberapa bulan terakhir. Baik serangan Yom Kippur pada sebuah sinagog di Halle Oktober lalu dan pembunuhan pada Juni seorang politisi pro-pengungsi, Walter Lübcke, dilakukan oleh para penyerang yang berafiliasi dengan sayap kanan Jerman.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.