Fakta Keterlibatan Ukraina dalam Skandal Politik Donald Trump

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Donald Trump, kanan, melakukan pertemuan disela-sela sidang umum PBB dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy. Sumber: REUTERS/Jonathan Ernst

    Presiden Donald Trump, kanan, melakukan pertemuan disela-sela sidang umum PBB dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy. Sumber: REUTERS/Jonathan Ernst

    TEMPO.CO, Jakarta - Kini Ukraina terjebak dalam pusaran krisis politik Amerika, yang melibatkan Presiden Donald Trump dan Demokrat, ketika dua kubu bipartisan berjuang demi pilpres AS 2020.

    Demokrat meluncurkan penyelidikan untuk memakzulkan Trump atas tuduhan dia menekan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy untuk membantu melemahkan Joe Biden, pesaing pilpres Trump dari Demokrat.

    Trump dan Zelensky berbicara melalui telepon pada 25 Juli, dan Gedung Putih telah merilis transkrip percakapan mereka, di mana Trump meminta Zelensky untuk menyelidiki keluarga Biden, dan Zelensky setuju untuk melakukannya.

    Sebelumnya, Trump telah membekukan hampir US$ 400 juta atau Rp 5,7 triliun bantuan ke Ukraina. Para pengkritiknya menuduhnya menggunakan dana itu sebagai pengaruh untuk menekan Zelenskiy agar melakukan penyelidikan. Dan berikut adalah uraian kasus bagaimana Ukraina terjebak dalam kemelut politik AS, seperti dikutip dari Reuters, 27 September 2019.

    Seputar kasus Joe Biden

    Joe Biden adalah wakil presiden dalam pemerintahan Presiden Barack Obama dan orang penting untuk Ukraina. Trump menuduh bahwa Biden menggertak pihak berwenang Ukraina untuk memecat Jaksa Agung Viktor Shokin pada 2016, mengancam akan menahan US$ 1 miliar atau Rp 14.2 triliun dalam jaminan pinjaman jika Kiev gagal mematuhinya.

    Menurut Trump, Biden telah membuat Shokin dipecat karena dia sedang menyelidiki kegiatan putra Biden Hunter, yang bekerja untuk sebuah perusahaan gas Ukraina bernama Burisma.

    Hunter Biden membantah melakukan kesalahan selama bekerja untuk Burisma. Joe Biden membantah berusaha melindungi putranya, dan mengatakan tekanan untuk memecat Shokin sedang diterapkan secara luas oleh pemerintah Eropa pada saat itu karena kekhawatiran akan korupsi.

    Presiden AS Barack Obama (kiri), Wapres Joe Biden dan putranya Hunter Biden menyaksikan pertandingan bola basket di Verizon Center, Washington DC, 30 Januari 2010. Mitchell Layton/Getty Images

    Burisma didirikan oleh mantan menteri dan anggota partai mantan Presiden Viktor Yanukovich. Setelah Yanukovich yang pro Kremlin digulingkan menyusul protes di jalan pada tahun 2014, jaksa membuka penyelidikan kriminal ke Burisma.

    Pengacara pribadi Trump Rudolph Giuliani juga menuduh beberapa pejabat di Ukraina berkonspirasi untuk membantu penantang Demokrat Trump Hillary Clinton pada 2016 dengan membocorkan informasi yang merusak manajer kampanye Trump saat itu, Paul Manafort.

    Manafort, seorang konsultan politik lama Republik yang sekarang menjalani hukuman setelah divonis karena penipuan, telah bekerja di Ukraina untuk Yanukovich selama bertahun-tahun sebelum dipekerjakan oleh Trump.

    Giuliani telah memilih Serhiy Leshchenko, mantan anggota parlemen yang menerbitkan rincian pembayaran di luar buku yang dilakukan oleh Yanukovich ke Manafort.

    Giuliani dekati Zelensky

    Zelensky adalah mantan komedian tanpa pengalaman politik sebelumnya. Dia menjadi presiden setelah menang pemilihan umum pada bulan April. Sebelum Zelensky dilantik, Giuliani mengumumkan pada Mei bahwa ia akan mengunjungi Ukraina, tetapi kemudian tiba-tiba membatalkan kunjungannya dengan mengatakan Zelensky dikelilingi oleh musuh-musuh Trump. Dia menunjuk Leshchenko, yang telah menjadi penasihat Zelenskiy selama kampanyenya.

    Setelah Giuliani membatalkan lawatan, Andriy Yermak, ajudan Zelensky, berusaha menemui Giuliani tentang apa yang dikatakan Yermak adalah inisiatifnya sendiri.

    Siapa jaksa agung Shokin?

    Shokin menjadi Jaksa Agung pada Februari 2015 pada saat pendukung Barat Ukraina menyerukan agar Kiev menangani korupsi dengan imbalan bantuan miliaran dolar AS. Para diplomat, aktivis anti-korupsi dan beberapa pejabat menuduh kantor Shokin menghalangi reformasi dan menghentikan penyelidikan.

    Pengkritik Shokin termasuk wakilnya, Vitaliy Kasko, yang secara terbuka mengundurkan diri pada Februari 2016 mengatakan kantor Jaksa Agung adalah penghambat reformasi peradilan pidana dan sarang korupsi.

    Duta Besar AS pada saat itu, Geoffrey Pyatt, dalam pidato September 2015, menyebut Shokin sebagai hambatan untuk memerangi korupsi.

    Sementara Trump menyebut Shokin sebagai jaksa agung yang tangguh dan Giuliani menegaskan bahwa Shokin dipecat karena menyelidiki Burisma, Pyatt menuduh kantor Shokin sengaja merusak penyelidikan terhadap pendiri Burisma di Ukraina dan di Inggris Raya.

    Shokin dipecat pada Maret 2016, sebuah keputusan yang secara terbuka disahkan oleh Uni Eropa. Pada 2017, Burisma mengatakan semua investigasi terhadap perusahaan dan pendirinya ditutup.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.