Mucaad Ibrahim, Korban Teror di Selandia Baru, Gemar Main iPad

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mucaad Ibrahim, 3 tahun (kanan), salah satu korban tewas penembakan dalam serangan teror di Selandia Baru pada Jumat, 15 Maret 2019. Warga yang berduka mengirim bunga dan pesan pada kiri atas, dan pelaku serangan teroris Brenton Harrison Tarrant, 28 tahun, di kiri bawah. Independent

    Mucaad Ibrahim, 3 tahun (kanan), salah satu korban tewas penembakan dalam serangan teror di Selandia Baru pada Jumat, 15 Maret 2019. Warga yang berduka mengirim bunga dan pesan pada kiri atas, dan pelaku serangan teroris Brenton Harrison Tarrant, 28 tahun, di kiri bawah. Independent

    TEMPO.COChristchurch – Bocah Mucaad Ibrahim, 3 tahun, menjadi korban termuda dalam serangan teror di Selandia Baru, yang menyasar jamaah salat Jumat di dua masjid di Kota Christchurch pada Jumat, 15 Maret 2019.

    Baca: 

    Mucaad Ibrahim, Korban Termuda Teror di Selandia Baru, Dimakamkan

     

    Saat itu, Ibrahim sedang salat Jumat bersama ayah dan kakaknya, yang duduk dibelakangnya, di masjid Al Noor di Deans Ave.

    “Dia disayangi oleh komunitas di sini,” kata Ahmed Osman, salah satu teman dari keluarga Ibrahim seperti dilansir Epoch Times pada Ahad, 17 Maret 2019.

    Ibrahim dikenal sebagai bocah lelaki yang bersemangat dan suka tertawa. Menurut Osman, bocah ini gemar berinteraksi dengan orang yang jauh lebih dewasa dan mudah diajak ngobrol.

    Baca:

    “Mainan kesukaannya adalah iPad,” kata Osman yang mengaku terkesan dengan tingkat kecerdasan bocah dari keluarga Somalia ini.

    Ibrahim cilik gemar bermain di lapangan dekat masjid Al Noor setiap Jumat sore pukul enam. Dia menonton permainan sepak bola abangnya, Abdi dan Osman serta beberapa teman lainnya.

    “Balita ini bakal berdiri di sisi lapangan menyemangati mereka sambil menendang bola kecil miliknya di lapangan rumput,” kata Osman dengan tersenyum.

    Baca:

    Pada saat kejadian, Ibrahim, ayahnya serta abangnya Abdi mengikuti salat Jumat di masjid Al Noor. Saat sedang mendengarkan khutbah salat Jumat, tiba-tiba terdengar suara keras tembakan memecah keheningan.

    Ini adalah sebagian wajah para korban penembakan dalam serangan teror Selandia Baru oleh Brenton Harrison Tarrant, 28 tahun, yang mendukung supremasi kulit putih. TVNZ

    “Setiap orang mulai berlari. Abdi berpikir ayahnya telah membawa Mucaad. Dalam keadaan kacau dan panik, ketiganya terpisah,” begitu dilansir Epoch Times.

    Itulah saat terakhir Abdi melihat adiknya. Pasca kejadian, dia mencoba mencari keberadaan adiknya itu. Belakangan polisi mengatakan Mucaad Ibrahim merupakan salah satu korban tewas penembakan di masjid A Noor.

    PM Jacinda Ardern mengunjungi keluarga korban serangan teror di Selandia Baru pada Senin, 17 Maret 2019 di Kota Christchurch. Meaww

    “Ibu saya masih sangat berduka. Setiap kali dia melihat orang lain menangis, merasa emosional, dia jatuh pingsan,” kata Abdi.

    Baca:

     
     

    Mucaad Ibrahim dimakamkan pada Jumat sore, 22 Maret 2019 bersama 25 korban tewas lainnya yang kebanyakan adalah orang dewasa.  

    Korban lainnya yang berusia balita adalah Abdullahi Dirie, 4 tahun, juga berasal dari Somalia. Dia adalah anak kelima dari lima bersaudara. Empat saudara lelakinya berhasil menyelamatkan diri saat terjadi serangan teror di Selandia Baru. “Ini adalah orang-orang yang tidak bersalah,” kata Abdulrahman Hashi, 60, paman dari Dirie.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.