Kamis, 22 November 2018

PBB Minta Repatriasi Pengungsi Rohingya ke Myanmar Dibatalkan

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hasina Khatun, 35, yang suaminya Dil Mohammed termasuk di antara 10 pria Rohingya yang dibunuh oleh pasukan keamanan Myanmar dan penduduk desa Buddha pada 2 September 2017, berfoto bersama anaknya di kamp Balukhali di Cox's Bazar, Bangladesh, 21 Maret 2018. REUTERS/Mohammad Ponir Hossain

    Hasina Khatun, 35, yang suaminya Dil Mohammed termasuk di antara 10 pria Rohingya yang dibunuh oleh pasukan keamanan Myanmar dan penduduk desa Buddha pada 2 September 2017, berfoto bersama anaknya di kamp Balukhali di Cox's Bazar, Bangladesh, 21 Maret 2018. REUTERS/Mohammad Ponir Hossain

    TEMPO.CO, Jakarta - Tim investigasi HAM PBB di Myanmar mendesak Bangladesh untuk membatalkan rencana memulangkan ratusan ribu pengungsi etnis Rohingya ke negara bagian Rakhine. Pasalnya, para pengungsi rohingya itu masih berisiko tinggi menghadapi penganiayaan.

    Menurut Yanghee Lee, Utusan HAM PBB untuk Myanmar, para pengungsi Rohingya sangat ketakutan ketika mereka tahu nama mereka masuk dalam daftar orang-orang yang akan direpatriasi. Kenyataan ini membuat mereka tertekan dan sangat sedih.

    Sebelumnya pada 30 Oktober 2018, Myanmar dan Bangladesh sepakat memulai pemulangan para pengungsi etnis minoritas Rohingya ke Myanmar pada pertengahan November ini. Namun PBB telah menilai kondisi di negara bagian Rakhine belum kondusif untuk kembali.

    Baca: Kisah Muslim Rohingya Berbagi Hewan Kurban di Kamp Pengungsi

    Pria Rohingya berjalan dengan seorang anak di antara kamp pengungsi Kutupalong di Maynar Guna, dekat Cox's Bazar, Bangladesh, 7 April 2018. Kamp di Bangladesh menampung ribuan pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar. Arif Hüdaverdi Yaman/Anadolu

    Baca: Pemukiman Bagi Pengungsi Rohingya Siap Ditempati 2019

    Saat ini ada lebih dari 700.000 pengungsi Rohingya berlindung ke Bangladesh melintasi wilayah barat Myanmar. Gelombang pengungsi besar-besaran ini dipicu oleh serangan balasan terhadap etnis minoritas Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar, pada Agustus 2017 yang dipimpin oleh militer Myanmar.

    Lee mengatakan pihaknya sekarang ini belum melihat bukti dari Myanmar akan menciptakan lingkungan, di mana suku Rohingya dapat kembali ke tempat asal mereka dan hidup dengan aman dengan menjamin hak mereka.

    “Myanmar telah gagal memberikan jaminan bahwa para etnis Rohingya ini tidak akan mengalami penganiayaan dan kekerasan yang sama sekali lagi," kata Lee.

    Lee menjelaskan, akar penyebab krisis harus ditangani terlebih dahulu, termasuk hak untuk kewarganegaraan dan kebebasan bergerak.

    Myanmar selama ini tidak menganggap Rohingya sebagai bagian dari kelompok etnis pribumi negara itu. Myanmar berkeras menyebut etnis Rohingya sebagai orang-orang Bengali yang berasal dari Bangladesh.

    The Daily Star.net | MIS FRANSISKA DEWI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komposisi Utang Merpati Nusantara Airlines

    Asa bisnis Merpati Nusantara Airlines mengembang menyusul putusan Pengadilan Niaga Surabaya yang mengabulkan penundaan kewajiban pembayaran utang.