Benazir Bhutto Tewas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Rawalpindi:Bekas Perdana Menteri Pakistan Benazir Bhutto, 54 tahun, dikabarkan tewas dalam sebuah serangan bom bunuh diri Kamis (27/12) pagi waktu setempat. Kesaksian itu disampaikan seorang sumber di Kementrian Dalam Negeri Pakistan kepada AFP. Menurut sumber di kementrian dan juga di Partai Rakyat Pakistan (PPP), partai pimpinan Bhutto, nyonya Bhutto tewas di rumah sakit lantaran menderita luka parah. Ikut tewas 20 orang lainnya. Bom meledak tak lama setelah Bhutto berpidato di kota Rawalpindi. "Jelas itu serangan bom bunuh diri," kata Juru Bicara Kementrian Dalam Negeri Javad Iqbal Cheema kepada AFP. Tapi, "kami belum bisa memastikan berapa korban tewas dan luka untuk beberapa saat ini," katanya. Menurut Cheema berdasarkan kesaksian sejumlah orang pelaku meledakkan diri tatkala massa mulai membubarkan diri. Menurut wartawan AFP di lokasi kejadian lima orang tewas seketika saat bom bekekuatan besar itu menyalak di tengah kerumunan. Amerika Serikat dan Rusia mengutuk serangan tersebut. Juru Bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat Tom Casey tak bisa dikonfirmasi seputar kabar tewasnya putri mendiang Perdana Menteri Pakistan Zulfikar Ali Bhutto, yang digulingkan militer.Sebelumnya empat orang terbunuh menjelang kampanye pemilihan oleh mantan Perdana Menteri Nawaz Sharif di dekat Rawalpindi. Baik Sharif maupun Bhutto dikenal amat kritis terhadap pemerintahan Presiden Pervez Musharraf. Sejatinya serangan ini bukan yang pertama. Ketika nyonya Bhutto kembali ke Pakistan pada Oktober lalu, setelah berada di pengasingan, iring-iringan yang membawanya diserang oleh dua bom bunuh diri yang menyebabkan sekitar 130 orang tewas. PPP sejauh ini meraih dukungan terbesar di Pakistan dan merupakan partai oposisi utama di sana. | AP | AFP | BBC | ANDREE PRIYANTO

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Memilih Status PSBB, Sejumlah Negara Memutuskan Lockdown

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan PSBB. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara yang telah menetapkan status lockdown atau karantina wilayah.