Selasa, 20 November 2018

Antisipasi Penculikan, KJRI Malaysia Imbau WNI di Laut

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua kapal cepat milik pasukan khusus Filipina melaju kencang, untuk mencari sejumlah wisatawan yang diculik oleh kelompok bersenjata. Sejumlah turis tersebut telah menjadi target penculikan para kelompok bersenjata. Davao del Norte, Filipina, 24 September 2015. Jeoffrey Maitem / Getty Images

    Dua kapal cepat milik pasukan khusus Filipina melaju kencang, untuk mencari sejumlah wisatawan yang diculik oleh kelompok bersenjata. Sejumlah turis tersebut telah menjadi target penculikan para kelompok bersenjata. Davao del Norte, Filipina, 24 September 2015. Jeoffrey Maitem / Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Guna menghindari penculikan, Konsulat Republik Indonesia di Tawau, Malaysia, mengeluarkan peringatan waspada bagi WNI yang bekerja di Sabah terutama saat melaksanakan kegiatan di laut.

    Dilansir dari The Star, 1 November 2018, Kepala Kantor KJRI di Tawau Sulistijo Djati Ismojo mengatakan semua orang Indonesia, terutama yang bekerja di sektor perikanan harus mengambil langkah-langkah pencegahan untuk menghindari penculikan.

    Baca: Milisi Abu Sayyaf Bebaskan 3 WNI yang Diculik Januari 2018

    Peringatan ini datang menyusul beredarnya artikel daring oleh awak laut peringatan 'Marine Link' dan penduduk pesisir yang menyebut ada upaya penculikan.

    Artikel berjudul "Piracy Warning Off Philippines" juga menyatakan bahwa Focal Point Filipina (Penjaga Pantai Filipina) telah memperingatkan sekitar 10 anggota Kelompok Abu Sayyaf (ASG) yang dipersenjatai dengan pistol, senapan dan pelontar granat, berencana untuk melakukan penculikan di daerah yang dirahasiakan di Sabah, yang menargetkan pengusaha atau awak kapal asing yang melewati perairannya.

    Kelompok Abu Sayyaf [Tony Blair Institute for Global Change]

    Artikel itu mendesak para perusahaan pemilik kapal dan anggota awak untuk ekstra waspada saat transit perairan Sabah Timur dan laut Sulu-Sulawesi.

    Sulistijo juga mendesak semua orang Indonesia untuk mematuhi peringatan, aturan dan peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah Malaysia, termasuk para penegak maritim Malaysia.

    Baca: Bukan Abu Sayyaf, Lalu Siapa Penculik 3 Nelayan WNI di Filipina?

    "Pastikan semua kapal dilengkapi dengan fitur dan sistem keamanan seperti yang dipersyaratkan oleh pemerintah Malaysia," katanya.

    Dia juga mengingatkan mereka untuk tetap berhubungan dengan pangkalan Komando Keamanan Sabah Timur (Esscom) dan segera melaporkan orang atau kegiatan yang mencurigakan.

    Baca: Dari Separatis Menjadi Teroris, 4 Fakta Kelompok Abu Sayyaf

    Dua nelayan Indonesia, yang diculik oleh orang-orang bersenjata Filipina di perairan Pulau Bodgaya pada 11 September, masih berada di tangan penculik.

    Dua WNI korban penculikan bernama Samsul Saguni, 40 tahun, dan Usman Yunus, 35 tahun, diyakini telah dibawa melintasi perbatasan ke Filipina selatan oleh perompak untuk tebusan yang bekerja dengan kelompok Abu Sayyaf di Jolo, Filipina.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    21 November, Hari Pohon untuk Menghormati Julius Sterling Morton

    Para aktivis lingkungan dunia memperingati Hari Pohon setiap tanggal 21 November, peringatan yang dilakukan untuk menghormati Julius Sterling Morton.