Bukan Abu Sayyaf, Lalu Siapa Penculik 3 Nelayan WNI di Filipina?

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kelompok Abu Sayyaf berkumpul di hutan kepulauan Basilan, Filipina Selatan. [Radio Free Asia]

    Kelompok Abu Sayyaf berkumpul di hutan kepulauan Basilan, Filipina Selatan. [Radio Free Asia]

    TEMPO.CO, Jakarta - Duta Besar Indonesia untuk Filipina, Sinyo Harry Sarundajang, memastikan kelompok radikal Abu Sayyaf di Filipina Selatan yang dituding menculik dan menyekap 3 nelayan WNI sudah tidak ada. Para pucuk pimpinan kelompok garis keras ini pun dipastikan sudah tewas dan para pengikutnya kocar-kacir.  

    “Kelompok Abu Sayyaf sudah tidak ada. Kelompok ini sudah terpecah menjadi ratusan fraksi. Biasanya, setelah 2-3 Minggu aksi penculikan dilakukan, baru si penculik melakukan kontak. Motifnya cari duit. Mereka yang menyandera nelayan WNI adalah yang membunuh sandera warga negara asing,” kata Harry, Rabu, 19 September 2018.      

    Terhitung sejak 2016, total ada 34 nelayan WNI disandera kelompok garis keras di Filipina. Dari jumlah tersebut, 13 orang diculik di perairan Sabah, Malaysia. Harry mengatakan banyak orang berasumsi penculik para nelayan WNI ini adalah kelompok Abu Sayyaf, padahal kelompok ini sudah tidak ada lagi dan terpecah menjadi ratusan fraksi.      

    Baca: Kelompok Bersenjata di Filipina Bebaskan Sandera 3 Nelayan WNI

    Duta Besar RI untuk Filipina, Sinyo Harry, kiri dan Direktur Perlindungan WNI Kemenlu, Lalu Muhammad Iqbal, kanan, memberikan keterangan media soal pembebasan 3 sandera nelayan WNI. Rabu, 19 September 2018. Tempo/Suci Sekar

    Baca: 4 Sandera WNI di Filipina Dibebaskan

    Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal, mengatakan nama kelompok Abu Sayyaf telah sangat populer. Saat terjadi penculikan banyak orang menuding kelompok ini dalangnya, padahal belum tentu kelompok itu karena nama Abu Sayyaf sudah menjadi trademark di dunia.     

    “Apakah ada keterlibatan imigran gelap dalam aksi penculikan? Mungkin saja. Makanya Presiden Joko Widodo menggagas pertemuan trilateral di Yogyakarta pada Mei 2016. Sebab ini perairan rawan (perairan Sabah). Kami meminta ada jaminan keamanan dari pemerintah Malaysia,” kata Iqbal. 

    Kelompok bersenjata di Filipina pada 15 September 2018, membebaskan tiga nelayan WNI yang disandera sejak 18 Januari 2017 di Filipina Selatan. Sebelumnya pada 11 September 2018, Kementerian Luar Negeri kembali menerima laporan adanya dua nelayan WNI yang disandera di wilayah itu. 

    “Setelah kejadian ini, perlu ada evaluasi. What is going on? Karena kok kecolongan lagi,” kata Iqbal. 

    Iqbal mengatakan sangat ingin kerja sama trilateral antara Indonesia, Malaysia dan Filipina untuk mengatasi aksi-aksi penculikan dengan melakukan patroli gabungan, berjalan efektif. Namun dia pun menolak jika disebut kerja sama ini mengalami penurunan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.