8 Ulah Pemimpin Dunia yang Mengejutkan di Majelis Umum PBB

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Kuba Fidel Castro berpidato panjang di hadapan Majelis Umum PBB, di New York, pada 12 Oktober 1979. Fidel Castro meninggal dalam usia 90 tahun, pada 25 November 2016. AP/Marty Lederhandler

    Presiden Kuba Fidel Castro berpidato panjang di hadapan Majelis Umum PBB, di New York, pada 12 Oktober 1979. Fidel Castro meninggal dalam usia 90 tahun, pada 25 November 2016. AP/Marty Lederhandler

    TEMPO.CO, Jakarta - Sidang Majelis Umum PBB dikejutkan dengan pidato presiden Amerika Serikat Donald Trump yang membuat para pemimpin dunia dan delegasi tertawa spontan. Sidang yang biasanya diikuti kepala negara atau pemerintahan dan delegasi dengan serius, mendadak berubah menjadi arena tawa. 

    Peristiwa mengejutkan di ruang gedung Majelis  akibat  pidato seorang kepala negara atau kepala pemerintahan telah beberapa kali terjadi. Berikut ulah delapan kepala negara saat berpidato yang  mengejutkan sidang Majelis Umum PBB. 

    Baca: Pemimpin Dunia di PBB Tertawa Spontan Dengar Trump Pidato

    1. Sepatu Khrushchev.
    Pemimpin Soviet Nikita Khrushchev melakukan lebih dari menaikkan alis beberapa kali setelah kepala delegasi dari Filipina mengkritik Moskow karena membatasi kebebasan orang Eropa Timur ketika Perang Dingin berkecamuk tahun 1960.  Dia saat itu memakai sepatu baru yang ketat. Dia kemudian melepaskan sepatunya sambil duduk. Ketika Khruhschev berdiri, ia memukul meja dengan sangat keras sampai-sampai jam tangannya jatuh. Saat ia mengambil jam tangannya, ia kembali melihat sepatunya dan memukulnya. Ini mengejutkan sidang. Cucunya perempuannya menceritakan peristiwa melalui tulisan. 

    2. Cabang pohon zaitun dan pistol Arafat.
    Yasser Arafat merupakan seorang pejuang untuk kemerdekaan Palestina yang diwarnai dengan pengungsian dan kematian rakyat Palestina. Arafat pada tahun 1974 diundang berbicara di sidang umum PBB untuk mewakili Organisasi Pembebasan Palestina, PLO. Saat berpidato, Arafat mengenakan seluruh asesorisnya untuk merepresentasikan negaranya. Dengan mengenakan sobran khasnya, ia menyimpulkan dengan suatu kutipan: “Hari ini saya datang membawa cabang pohon zaitun dan senjata dari pejuang kebebasan. Jangan biarkan ranting pohon zaitun ini jatuh dari tanganku.”

    Baca: Band Korea BTS Serukan Atasi Kemiskinan di Pertemuan Majelis Umum PBB

    3. Pidato panjang Castro. 
    Pemimpin Kuba Fidel Castro menyampaikan beberapa pidato di sidang umum PBB, mencerca orang-orang yang dicirikannya sebagai penindas kapitalis negaranya. Ia diminta untuk menyampaikan pidato secara singkat. Tetapi hal itu tidak terjadi. Pada sidang umum PBB tahun 1960, waktu sidang dibatasi 4 jam 30 menit. Berpakaian dengan seragam militer hijau khasnya, Castro mengatakan revolusi yang ia pimpin 20 bulan sebelumnya telah mengakhiri status negara itu sebagai “koloni AS.” Dalam pidatonya yang bertele-tele itu, Castro membela hubungan Kuba dengan Uni Soviet, menyatakan keprihatinan serius bahwa “pemerintah imperialis” Amerika mungkin dapat menyerang Kuba, dan memanggil Presiden AS John F. Kennedy sebagai “seorang jutawan yang buta huruf dan bodoh.” Castro juga mengeluh karena merasa “diperlakukan rendah dan dipermalukan” di New York, termasuk diusir dari hotelnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.