Jim Mattis: Pasukan Amerika Serikat Tetap di Korea Selatan

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pertahanan AS, Jim Mattis (kiri) dan Menteri Pertahanan Korea Selatan Song Young-moo saat bertemu di Seoul, Korea Selatan, Kamis, 28 Juni 2018.[Foto Chung Sung-jun/Pool via AP]

    Menteri Pertahanan AS, Jim Mattis (kiri) dan Menteri Pertahanan Korea Selatan Song Young-moo saat bertemu di Seoul, Korea Selatan, Kamis, 28 Juni 2018.[Foto Chung Sung-jun/Pool via AP]

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Jim Mattis, menegaskan AS akan mempertahankan jumlah pasukannya di Semenanjung Korea, bahkan saat negosiasi nuklir berlanjut dengan Korea Utara. Pernyataan ini disampaikan Mattis ketika singgah di Seoul dalam perjalanan dari Cina ke Jepang sebagai bagian dari perjalanan selama seminggu ke Asia.

    Berbicara bersama Menteri Pertahanan Korea Selatan Song Young-moo, Mattis, seperti dilaporkan Associated Press, 29 Juni 2018, membacakan pernyataan panjang yang memperkuat komitmen kuat Amerika terhadap Seoul. Matis mengatakan AS akan terus menggunakan berbagai kemampuan diplomatik dan militer untuk menegakkan komitmen ini. 

    Baca: Korea Utara - Korea Selatan Ingin Jalur Kereta Api Hingga Eropa

    Pernyataan ini diumumkan setelah beredar isu AS akan menarik pasukannya dari semenanjung dan rumor semakin menguat ketika Presiden Donald Trump mengatakan setelah pertemuan 12 Juni dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un bahwa dia ingin memulangkan 28.500 pasukan Amerika Serikat dari Korea Selatan.

    "Saya ingin membawa tentara kami kembali ke rumah," kata Trump usai pertemuan 12 Juni dengan Kim Jong Un.

    Tentara Korea Selatan dan Amerika Serikat mengangkat perahu karet saat latihan militer musim dingin di Pyeongchang, Korea Selatan, 24 Januari 2017. AP/Lee Jin-man

    Korea Utara telah lama menganggap kehadiran pasukan Amerika di Korea Selatan sebagai ancaman. Ini adalah warisan Perang Korea 1950-53 yang berakhir tanpa perjanjian damai. Pasukan AS melakukan latihan reguler berskala besar dengan mitra Korea Selatan untuk mengasah keterampilan dan kemampuan mereka untuk operasi bersama. Korea Utara mengklaim latihan itu adalah persiapan invasi.

    Baca: Korea Selatan - Korea Utara Bahas Relokasi Artileri di Perbatasan

    Mattis mengatakan bahwa komitmen AS terhadap Korea Selatan termasuk mempertahankan pasukan AS saat ini di semenanjung itu. Dia mengatakan pertemuan dengan Song adalah pengingat kuat bahwa aliansi AS-Korea Selatan terus bertahan.

    "Amerika Serikat tetap berkomitmen kepada Republik Korea Selatan, dan AS akan terus menggunakan berbagai kemampuan diplomatik dan militer untuk menegakkan komitmen ini," kata Mattis sebelum bertemu Song, seperti dilansir dari Reuters.

    Song mengatakan pertemuan terpisah baru-baru ini pemimpin Korea Utara dengan Trump dan dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in telah meletakkan dasar bagi perdamaian permanen di Semenanjung Korea.

    "Jika Korea Utara mempertahankan komitmennya untuk denuklirisasi dan membuktikan kesediaannya dengan tindakan, kami akan terus memikirkan langkah-langkah untuk membangun rasa saling percaya dan membangun perdamaian," kata Song.

    Washington dan Seoul telah menunda latihan tempur Freedom Guardian pada Agustus mendatang, yang tahun lalu melibatkan 17.500 pasukan Amerika Serikat dan lebih dari 50.000 tentara Korea Selatan.

    "Keputusan baru-baru ini untuk menangguhkan latihan Freedom Guardian menciptakan peningkatan peluang bagi para diplomat kami untuk bernegosiasi, meningkatkan prospek untuk solusi damai di semenanjung Korea," kata Mattis, berdiri di samping rekan Korea Selatan-nya.

    Baca: Hormati Kim Jong Un, Amerika Serikat Tangguhkan Latihan Militer

    Korea Utara belum mengambil tindakan nyata untuk memenuhi janji denukliriasai, dan masih belum ada ketidakpastian seputar rencana Korea Utara untuk mengembalikan sisa-sisa jasad tentara AS yang meninggal dalam Perang Korea.

    Namun militer AS mengatakan telah memindahkan 100 peti mati kayu ke perbatasan Korea Utara untuk mempersiapkan kembalinya jenazah. Sementara 158 peti mati logam dikirim ke pangkalan udara Amerika Serikat di dekat kota Seoul dan akan digunakan untuk mengirim jasad pulang ke tanah AS.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.