Wapres Irak Minta Hasil Pemilu Parlemen Dibatalkan

Reporter:
Editor:

Choirul Aminuddin

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tentara Irak mengantri masuk ke tempat pemungutan suara saat pemilihan umum di Baghdad, Irak, 10 Mei 2018. REUTERS/Thaeir al-Sudani

    Tentara Irak mengantri masuk ke tempat pemungutan suara saat pemilihan umum di Baghdad, Irak, 10 Mei 2018. REUTERS/Thaeir al-Sudani

    TEMPO.CO, Jakarta - Koalisi Al-Wataniya pimpinan Wakil Presiden Irak Ayad Allawi mendesak agar hasil pemilihan umum parlemen dibatalkan.

    Pada acara jumpa pers di Bagdad, Rabu, 16 Mei 2018, salah satu pemimpin koalisi, Hamed Al-Mutlaq, mengatakan, "Kami meminta hasil pemilihan umum di seluruh Irak dibatalkan, Komisi Pemilihan Umum dibubarkan, membentuk komisi baru."

    Baca: Pemilu Irak, Koalisi Syiah dan Komunis Menang

    "Kami memiliki bukti dan ketidakberesan dalam pemilihan umum tersebut. Banyak orang yang tidak memenuhi syarat ikut pemilihan tapi nyoblos di Al-Qa'im dan Ar-Rutbah."Tentara Irak memberikan suara saat pemilihan umum di Baghdad, Irak, 10 Mei 2018. REUTERS/Thaeir al-Sudani

    Selanjutnya, di depan awak media, Al-Mutlaq menunjukkan daftar nama orang yang digunakan oleh sejumlah partai politik untuk mencoblos. "Dia juga membawa bukti kartu suara yang diperjualbelikan oleh Komisi Pemilihan Umum," tulis Middle East Monitor, Kamis, 17 Mei 2018.

    Dari hasil penghitungan suara sementara, menurut sumber di Komisi Pemilihan, sebagaimana dikutip Anadolu, koalisi Al-Wataniya mendapat 22 kursi dari 328 kursi yang tersedia di parlemen.

    Pemimpin koalisi Al-Wataniya lain, Abdul Karim Abtan, menjelaskan dalam acara jumpa pers tersebut, rata-rata keikutsertaan masyarakat dalam pemilihan umum Irak tidak sampai 20 persen. "Kami tak habis mengerti, bagaimana bisa Komisi Pemilihan mengatakan warga yang ikut coblosan mencapai 44,52 persen," ucapnya.

    Warga Irak mengibarkan bendera saat merayakan kemenangan tentara Irak atas kelompok militan ISIS di Mosul, Baghdad, Irak, 10 Juli 2017. Warga turun ke jalan usai Perdana Menteri Haider al-Abadi mengumumkan kemenangan besar tentara Irak atas ISIS. REUTERS/Khalid al Mousily

    Abtan juga mengklarifikasi bahwa suara para calon anggota parlemen di sejumlah provinsi, termasuk Kirkuk, dicuri.

    "Kami meminta dilakukan pemeriksaan acak atas suara hasil coblosan di sejumlah provinsi melalui penghitungan manual. Bila terjadi perbedaan dalam penghitungan suara, kami meminta hasil pemilu dibatalkan," tuturnya.

    Baca: Pemilu Irak, PM Abadi Ikut Mencalonkan Diri

    Hasil penghitungan suara pemilu Irak dari 18 provinsi menunjukkan kemenangan diraih oleh aliansi Sairoon, yang didukung ulama Syiah, Muqtada Al-Sadr, di posisi pertama. Disusul aliansi Fatah yang dipimpin Hadi Al-Amiri serta koalisi Al-Nasr pimpinan Al-Abadi yang masing-masing berada di posisi kedua dan ketiga.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.