Turki - Jerman Sepakat Atasi Teror

Reporter:
Editor:

Choirul Aminuddin

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier (kiri) dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kanan). [https://aa.com.tr]

    Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier (kiri) dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kanan). [https://aa.com.tr]

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Turki dan Jerman sepakat melawan terorisme. Hal itu disampaikan dalam sebuah pembicaraan melalui telepon, Rabu, 21 Maret 2018.

    Sumber di Ankara yang tak bersedia disebutkan namanya mengatakan, Recep Tayyip Erdogan dan rekannya dari Jerman, Frank-Walter Steinmeier, bersepakat meningkatkan hubungan Turki-Jerman.

    Baca: Perkenalkan, Masjid untuk Semua Muslim Berdiri di Jerman

    Serangan terhadap komunitas Turki di Jerman meningkat. [http://www.dw.com]

    Menurut sumber, Erdogan juga berbagi informasi mengenari Operasi Ranting Zaitun yang dilancarkan Turki ke wilayah sebelah utara Suriah.

    Sementara itu, pada Senin, 19 Maret 2018, terjadi serangan bom molotov di sebuah masjid milik komunitas Turki di Kota Ulm, Jerman.Umat Muslim beribadah di dalam masjid Sehitlik yang dikelola oleh Turkish-Islamic Union for Religious Affairs (DITIB) di Berlin, Jerman, 3 Oktober 2017. Hari Masjid Terbuka telah berlangsung sejak 1997 pada peringatan Reunifikasi Jerman, dan diharapkan mampu mendatangi 100.000 orang ke masjid-masjid. REUTERS

    Sejumlah saksi mata mengatakan kepada Al Jazeera, meskipun serangan molotov itu tidak melukai para jamaah masjid namun beberapa bagian masjid rusak.

    Baca: Gerakan Antimuslim di Jerman dan Spanyol Meningkat

    Serangan itu berlangsung hanya kurang lebih dua pekan setelah insiden serupa terjadi di ibu kota Jerman, Berlin. Ketika itu, sebuah masjid dibakar. Pada awal Maret 2018, masjid lainnya yang juga dikelola masyarakat Turki di Jerman diserang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.