Kamis, 15 November 2018

Hun Sen Sebut Oposisi Kamboja Gila--Bodoh karena Gugat Facebook

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perdana Menteri Kamboja Hun Sen. AP Photo/Heng Sinith

    Perdana Menteri Kamboja Hun Sen. AP Photo/Heng Sinith

    TEMPO.CO, Jakarta - Perdana Menteri Kamboja Hun Sen menyebut rivalnya, yang juga merupakan pemimpin oposis sebagai, "gila dan bodoh". Dia mengatakan ini terkait gugatan Sam Rainsy terhadap perusahaan jejaring sosial Facebook. Sam Rainsy membuat permohonan untuk membuat manajemen Facebook mau merilis detil cara Hun Sen menggunakan media sosial termasuk cara mendapatkan banyak 'like' untuk laman Facebooknya.

    Baca: Pemimpin Oposisi Gugat Facebook Ungkap Hun Sen Beli Jutaan Like

     

    Melalui tim hukumnya di Amerika Serikat, Rainsy mengajukan tuntutan hukum di negara bagian California pada pekan lalu. Dia mengatakan Hun Sen menggunakan Facebook tersebut untuk melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia dan menipu rakyat pemilih.

    Baca: Laju Investasi Cina di Kamboja Memicu Kriminalitas?

     
     

    Di antara tuduhan Rainsy lainnya adalah Hun Sen membeli dari pabrik 'like' (suka) palsu untuk membuat seakan-akan warga Kamboja yang menyukai laman Facebook-nya terlihat banyak. Ini bertujuan untuk menyesatkan pemilih tentang jumlah dukungan publik yang dimilikinya.

    "Orang ini gila dan bodoh," kata Hun Sen kepada ribuan lulusan universitas di ibukota Phnom Penh sambil menambahkan Rainsy hanya merasa cemburu karena laman Facebook-nya memiliki 9,4 juta "suka" dan hanya 4,5 juta 'like'  untuk Sam Rainsy.

    Melalui komentarnya pada Selasa, 13 Februari 2018, Hun Sen mengatakan dia tidak tahu siapa yang menyukai lamannya itu.

    Kasus ini telah menarik perhatian mengenai peran sentral Facebook dalam diskusi politik di Kamboja, di mana pemerintah telah menutup partai oposisi utama, menahan pemimpinnya dan membobol kelompok media dan kelompok hak-hak sipil selama setahun terakhir.

    Petisi Sam Rainsy untuk melawan Facebook menyatakan bahwa platform itu telah digunakan oleh pemerintah untuk membuat ancaman pembunuhan. Rainsy juga menuduh uang negara telah dikeluarkan untuk iklan di Facebook, di mana pendukung Hun Sen telah membangun kehadiran yang kuat.

    Seperti yang dilansir Reuters pada 13 Februari 2018, Facebook belum menanggapi permintaan konfirmasi untuk gugatan dari Rainsy ini. 

    Sam Rainsy tinggal di Prancis, di mana dia melarikan diri pada tahun 2015, setelah terkena tuduhan mealkukan penghinaan yang menurutnya  bermotif politik. Dia belum menanggapi komentar Hun Sen tadi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Horor Pembunuhan Satu Keluarga Di Bekasi

    Satu keluarga dibunuh di Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, pada Selasa, 12 November 2018.