Trump Galang Sanksi Lebih Berat buat Kim Jong Un, Cina Bilang?

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Luar Negeri Korea Selatan Kang Kyung-wha, Sekretaris Negara AS Rex Tillerson, Menteri Luar Negeri Kanada Chrystia Freeland dan Menteri Luar Negeri Jepang Taro Kono terlihat dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri mengenai Keamanan dan Stabilitas di Semenanjung Korea di Vancouver, British Columbia, Kanada, 16 Januari 2018. REUTERS/Ben Nelms

    Menteri Luar Negeri Korea Selatan Kang Kyung-wha, Sekretaris Negara AS Rex Tillerson, Menteri Luar Negeri Kanada Chrystia Freeland dan Menteri Luar Negeri Jepang Taro Kono terlihat dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri mengenai Keamanan dan Stabilitas di Semenanjung Korea di Vancouver, British Columbia, Kanada, 16 Januari 2018. REUTERS/Ben Nelms

    TEMPO.CO, Vancouver- Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menggalang dukungan sekitar dua puluh negara untuk bersepakat  mengenakan sanksi lebih keras kepada negara pimpinan Kim Jong Un, Korea Utara, sebagai tekanan agar negara komunis itu mau menanggalkan program pengembangan senjata nuklir.

    Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Rex Tillerson, yang mewakili Trump, mengatakan Pyongyang bakal terkena serangan militer jika memilih untuk tidak bernegosiasi soal ini.

    Baca: Moon Memuji Trump Soal Pertemuan dengan Korea Utara, karena?

     

    AS menggelar pertemuan di Kota Vancouver, Kanada, pada Selasa, 16 Januari 2018 dengan mengundang negara-negara pendukung Korea Selatan selama Perang Korea pada 1950--53.

    Baca: Trump Dukung Dialog Korea Utara dan Korea Selatan karena ...

     

    Negara-negara ini juga bersumpah untuk mendukung pembicaraan damai antara kedua Korea dengan harapan ini bisa menghilangkan ketegangan secara permanen.

    "Kita semua harus melihat situasi ini dengan jernih... Kita harus mengakui bahwa ancaman meningkat saat ini. Jika Korea Utara tidak memilih jalur hubungan dan diskusi serta negosiasi, maka mereka sendiri yang memicu opsi itu," kata Tillerson dalam jumpa pers seusai pertemuan, Selasa, 16 Januari 2018.

    Tillerson menolak menjawab apakah AS sedang menyiapkan serangan mematikan kepada Korea Utara. "Saya tidak akan mengomentari isu yang masih harus diputuskan oleh Dewan Keamanan Nasional atau Presiden," kata Trump.

    Seperti diberitakan, pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong Un mengatakan akan meneruskan program senjata nuklirnya pada pidato awal tahun 2018. Dia juga mengatakan akan memproduksi lebih banyak senjata nuklir untuk kebutuhan operasional. Kim mengatakan senjata ini memang ditujukan kepada AS dan bukan kepada Korea Selatan.

    Dalam pidato itu, Kim juga mengatakan akan berpartisipasi dalam Olimpiade Musim Dingin pada Februari nanti di PyeongChang, Korea Selatan. Kedua negara sedang membahas aspek teknis keikutsertaan Korea Utara sambil menjajaki membentuk gabungan tim untuk pertandingan seperti hoki dan lainnya.

    Menurut Tillerson, pertemuan Vancouver ini ditujukan agar Korea Utara mau berunding dan mengambil opsi terbaik. "Ini saatnya bicara tapi mereka harus mengambil langkah untuk menunjukkan mereka ingin berbicara," kata Tillerson.

    Cina dan Rusia menolak untuk mengikuti pertemuan ini. Cina menilai ketidak-hadiran Korea Utara justru membuat pertemuan para menteri luar negeri ini menjadi kurang efektif. Rusia juga tidak mengikuti pertemuan ini meski mendukung upaya dialog dan bersedia menjadi mediator pertemuan antara Korea Utara dan AS.

    Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi, mengatakan semua  pihak harus menyambut menurunnya ketegangan di Semenanjung Korea. "Ini menjadi tes ketulusan semua pihak. Dunia harus terus memantau perkembangan di Semenanjung Korea," kata dia. "Dan siapa pihak yang akan menjadi pelaku sabotase agar ketegangan kembali terbangun di sana." Trump dikabarkan menyambut baik partisipasi Korea Utara pada Olimpiade Musim Dingin di Korea Selatan.

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.