Close

Dari Sini Awal Isu 'Jihad Seks' di Suriah Merebak  

Sabtu, 21 September 2013 | 11:24 WIB

Dari Sini Awal Isu 'Jihad Seks' di Suriah Merebak   
Para pemberontak Suriah mengikuti sesi latihan di Maaret Ikhwan, dekat Idlib, Suriah, Senin (17/12). AP/Muhammed Muheisen

TEMPO.CO, Tunis - Menteri Dalam Negeri Tunisia, Lotfi Ben Jeddou, menyatakan banyak wanita muda asal negerinya yang pergi ke Suriah untuk menghibur pejuang oposisi. Mereka mengobarkan "jihad seksual" dengan  melakukan hubungan badan dengan 20, 30, atau 100 laki-laki. "Setelah itu kembali ke Tunisia dalam keadaan hamil," katanya.

Jihad seks, mereka menyebutnya jihad al-nikah, kini menjadi perbincangan hangat di negeri itu. Koran Tunisia melaporkan bahwa seorang pria muda Tunisia menceraikan istrinya setelah sang istri ketahuan menyeberang ke negara itu untuk bergabung dengan wanita lainnya menghibur pejuang oposisi Suriah.

Ulama setempat, Noureddine al- Khadimi, menolak fatwa jihad ini. Ia mendesak warga Tunisia dan lembaga negara untuk tidak menanggapinya.

Isu ini pertama kali merebak setelah sebuah video beredar luas di Internet dan situs jejaring sosial di Tunisia yang menunjukkan pengakuan orang tua dari seorang gadis bernama Rahmah. Mereka mengatakan gadis 17 tahun itu menghilang dari rumah suatu pagi dan mereka belakangan mengetahui ia menuju ke Suriah untuk melakukan jihad seksual.

Wakil keluarganya mengatakan bahwa Rahmah tidak fanatik beragama "tapi dipengaruhi oleh sesama siswa yang terkenal karena afiliasi mereka dengan Salafi untuk mendukung mujahidin di sana."

Dalam cuplikan rekaman lain, ulama Salafi terkenal Sheikh Mohamed al- Arifi mengeluarkan seruan bagi perempuan Muslim untuk melakukan jihad melalui seks. Namun, sumber yang dekat dengan sheikh itu membantah bahwa ia telah mengeluarkan fatwa tersebut dan menekankan bahwa siapa pun yang  percaya pada imbauan itu adalah gila.

Laporan di Tunisia menekankan bahwa isu itu sengaja dibesar-besarkan untuk mencoreng citra para pejuang Islam.

TELEGRAPH | MAIL ONLINE | TRIP B

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan

Berita Terbaru