Umat Muslim Lindungi Warga Kristen Marawi dari Kelompok Maute

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga meninggalkan tempat tinggalnya usai selama tiga hari militan Maute menguasai kota Marawi di Filipina Selatan, 25 Mei 2017. Guna memukul mundur kelompok Maute, pemerintah Filipina mengerahkan sejumlah tentara beserta kendaraat berat menuju kota Marawi. AP Photo

    Warga meninggalkan tempat tinggalnya usai selama tiga hari militan Maute menguasai kota Marawi di Filipina Selatan, 25 Mei 2017. Guna memukul mundur kelompok Maute, pemerintah Filipina mengerahkan sejumlah tentara beserta kendaraat berat menuju kota Marawi. AP Photo

    TEMPO.CO, Marawi—Pertempuran sengit di Kota Marawi, Mindanao, Filipina selatan, ternyata tak melunturkan toleransi antar umat beragama.

    Wakil Gubernur Provinsi Lanao del Sur, Mamintal Adiong, Jr., membenarkan kabar bahwa 39 penduduk Kristen Kota Marawi yang terjebak dalam baku tembak antara militer Filipina dan Kelompok Maute, diselamatkan oleh sekelompok warga desa Muslim.

    Penyelamatan ke-39 orang itu menurut Adiong diprakarsai seorang pejabat lokal beragama Islam, Salma Jayne Tamano.

    Baca: Sepekan Pertempuran di Marawi, Hampir 100 Orang Tewas

    "Ini adalah kisah yang bagus tentang persatuan umat Muslim dan Kristen yang layak dibagikan ke seluruh dunia," ujar Adiong.

    Adiong menambahkan, dia mengucapkan terima kasih kepada warga Muslim yang melindungi 39 warga Kristen itu dari marabahaya yang mengintai.

    Sementara itu, kepala kepolisian Lanao del Sur, Oscar Nantes mengatakan, ke-39 orang itu selama lebih dari 36 jam bersembunyi tanpa mengonsumsi makana setelah kelompok Maute menyerbut Marawi.

    Nantes mengatakan, tim penyelamat yang dipimpin Tamano juga menyelamatkan dua tetua Muslim yang memberikan perlindungan kepada 39 orang itu di kediaman mereka.

    Kini para warga yang kelaparan itu sudah mendapatkan makanan dan tim kesehatan tengah mengevaluasi kesehatan mereka.

    Namun laporan Reuters menyebutkan hingga kini Maute belum membebaskan sandera yang terdiri atas pastur dan jemaat Katedral yang diserbu kelompok Maute pada Sabtu pekan lalu.

    Bagi warga minoritas Kristen di Marawi, kehidupan di kota itu memang penuh kedamaian dan toleransi.

    "Kami tidak menganggap diri kami Muslim atau Kristen, kami hanya teman," ujar Dela Pena, warga Kristen yang tinggal selama 17 tahun Marawi. Kini ia terpaksa mengungsi ke Kota Iligan, 37 kilometer dari Marawi.

    Baca: Delapan Jasad Disertai Tulisan 'Munafik' Ditemukan di Marawi 

    Sementara itu, Gubernur Wilayah Otonomi Muslim Mindanao (ARMM), Mujiv Hataman menyebut anggota kelompok Maute telah kehilangan kendali di Marawi. Dia juga mengatakan agar kelompok-kelompok militan yang pro-ISIS agar menggunakan bulan Ramadan sebagai sarana mengevaluasi diri.

    Kelompok bersenjata yang menamakan diri sebagai pemberontak Maute berperang untuk menguasai Kota Marawi selama sepekan terakhir. Mereka mencoba mendirikan ISIS cabang Asia Tenggara di wilayah selatan Filipina.

    Sejak pemberlakuan darurat militer di Mindanao sepekan lalu, korban tewas di Marawi mendekati 100 orang termasuk 16 warga sipil. Upaya penyerbuan itu dilakukan oleh militer Filipina guna membebaskan kota tersebut dari kepungan Maute, militan berafiliasi kepada ISIS.

    THE PHILIPPINE STAR | REUTERS | SITA PLANASARI AQUADINI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arab Saudi Buka Bioskop dan Perempuan Boleh Pergi Tanpa Mahram

    Berbagai perubahan besar yang terjadi di Arab Saudi mulai dari dibukanya bioskop hingga perempuan dapat bepergian ke luar kerajaan tanpa mahramnya.