Karena Konflik Laut Cina Selatan, Duterte Sebut Cina Ancam Perang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Filipina Rodrigo Duterte, dan Presiden Cina Xi Jinping berjabat tangan setelah upacara penandatanganan di Beijing, Cina, 20 Oktober 2016. AP Photo

    Presiden Filipina Rodrigo Duterte, dan Presiden Cina Xi Jinping berjabat tangan setelah upacara penandatanganan di Beijing, Cina, 20 Oktober 2016. AP Photo

    TEMPO.CO, Manila—Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengatakan Presiden Cina Xi Jinping mengancam akan melancarkan perang, jika Filipina memulai pengeboran minyak di bagian Laut Cina Selatan yang disengketakan.

    Seperti dilansir Straits Times, Sabtu 20 Mei 2017, Duterte menyebut bahwa Xi memberinya peringatan yang tegas meski tetap bersahabat saat mereka bertemu di Beijing pada awal pekan ini.

    Baca: Cina dan Filipina Bicarakan Perselisihan Laut Cina Selatan 

    Kepada Xi, Duterte mengatakan Manila ingin melakukan pengeboran minyak di wilayah Laut China Selatan, kemungkinan di Reed Bank di mana sebuah perusahaan Filipina telah melakukan pekerjaan eksplorasi.

    “Jika itu milik Cina, itu pandangan Anda. Tetapi dalam pandangan saya, kami dapat melakukan pengeboran minyak, karena itu milik Filipina. Jawaban dari Xi adalah ‘Kita teman. Kami tidak ingin berseteru dengan Anda. Tetapi jika Anda tetap memaksakan isu itu, kita akan berperang’. Apa lagi yang bisa saya katakan?” kata Duterte dalam pertemuan di Kota Davao Jumat lalu.

    Pidato Duterte tampaknya untuk membungkam pengecam domestik yang menuduhnya gagal dalam mempertahankan sengketa wilayah maritim.

    Baca: Perubahan Iklim Bisa Kurangi Potensi Konflik di Laut Cina Selatan

    Duterte menjelakan bahwa Xi juga mengatakan akan mengumumkan perang jika negara-negara lain yang bersengketa dengan Beijing wilayah di Laut Cina Selatan semakin ngotot dalam klaim mereka di Laut Cina Selatan, seperti Vietnam.

    Pidato Duterte itu disampaikan di hari yang sama dengan dimulainya sesi pertama proses konsultasi antara Cina dan Filipina terkait isu Laut Cina Selatan.

    Sebelumnya, pada 2013, pemerintah Filipina mengajukan gugatan ke pengadilan arbitrase di Den Haag untuk mengatur batas wilayah kelautan. Pengadilan tersebut melakukannya tahun lalu, dan membatalkan klaim Cina atas kedaulatan sebagian besar Laut Cina Selatan.

    Cina mengklaim hampir seluruh sumber energi di Laut Cina Selatan yang menyumbangkan penghasilan Rp 67 triliun setiap tahun dari lalu lintas perdagangan. Negara-negara tetangga Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Vietnam juga mengklaim kawasan ini.

    STRAITS TIMES | VOA | RT | SITA PLANASARI AQUADINI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.