Pengungsi Suriah Tuntut Facebook yang Biarkan Hoax Viral

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kanselir Jerman Angela Merkel berfoto bersama pengungsi asal Suriah Anas Modamani. rt.com

    Kanselir Jerman Angela Merkel berfoto bersama pengungsi asal Suriah Anas Modamani. rt.com

    TEMPO.CO, Wurzburg –Kabar bohong atau hoax yang beredar di sosial media rupanya tak hanya terjadi di Indonesia.  Di Jerman, seorang pengungsi Suriah menuntut Facebook karena membiarkan kabar bohong yang merugikan dirinya, menjadi viral.

    Seperti dilansir RT, Kamis 11 Januari 2017, Chan-jo Jun, pengacara dari Kota Wurzburg, Bavaria, menuntut Facebook mewakili kliennya Anas Modamani, pengungsi asal Suriah berusia 19 tahun.

    Simak juga:
    Cegah Hoax, Kemenkominfo Segera Bertemu Facebook dan Twitter

    "Gugatan uatama terhadap Facebook karena perusahaan ini tidak berusaha menghentikan kabar bohong yang merugikan klien saya,” demikian peryataan Jun dalam video yang diunggah dalam akun Facebook perusahaannya.

    Sidang gugatan terhadap Facebook akan dimulai pada 6 Februari mendatang.

    Pangkal masalah gugatan Modamani berawal dari swafoto alias selfie sang pemuda dengan Kanselir Jerman Angela Merkel pada September 2015. Foto yang diambil saat Merkel berkunjung ke kamp pengungsian Spandau di Ibu Kota Berlin itu kemudian menjadi viral setelah Modamani mengunggahnya ke akun Facebook.

    Namun foto ini kemudian menjadi masalah ketika terjadi serangan teror di bandara Brussels, Belgia, pada Maret 2016. Kemiripan Modamani dengan salah satu tersangka keturunan Maroko, Najim Laachraoui, membuat foto dirinya kembali viral tetapi dengan tajuk, “Merkel selfie dengan teroris Brussels.”

    Meski tuduhan ini telah dibantah aparat Belgia, kabar bohong tersebut tetap viral di Facebook.Kabar bohong terbaru adalah Modamani dituduh menjadi satu dari sekian tersangka pelaku pembakaran pria tuna wisma di Berlin pada Natal lalu.

    Kisah ini dibagikan 500 kali walaupun Modamani dipastikan bukan salah satu dari pelaku.

    “Bagi Facebook, kabar bohong dan penghinaan bukan pelanggaran standar komunitas tetapi pelanggaran hukum Jerman,” ujar Jun. Jika kasus ini berhasil, maka akan menjadi yurisprudensi baru dalam hukum Jerman.

    Modamani, yang saat ini tinggal dengan orang tua angkat di Berlin, mengaku sangat sedih atas beredarnya kabar bohong itu.

    “Saya prihatin bagaimana orang dengan mudah membuat dan menyebarkan kabar bohong. Saya hanya ingin hidup damai di Berlin,” kata dia kepada media Jerman.

    RUSSIA TODAY | DAILY MAIL | SITA PLANASARI AQUADINI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.