Guatemala Penjarakan Dua Perwira Militer Selama 360 Tahun

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rigoberta Menchu Tum, peraih Nobel Perdamaian 1992 memeluk korban kekerasan seksual setelah hakim menjatuhkan vonis bersalah untuk seorang mantan perwira militer dan mantan pejuang paramiliter yang melakukan pelecehan seksual terhadap perempuan pribumi selama perang sipil Guatemala, di dalam ruang sidang di Guatemala City, 26 Februari 2016. AP Photo/Moises Castillo

    Rigoberta Menchu Tum, peraih Nobel Perdamaian 1992 memeluk korban kekerasan seksual setelah hakim menjatuhkan vonis bersalah untuk seorang mantan perwira militer dan mantan pejuang paramiliter yang melakukan pelecehan seksual terhadap perempuan pribumi selama perang sipil Guatemala, di dalam ruang sidang di Guatemala City, 26 Februari 2016. AP Photo/Moises Castillo

    TEMPO.CO, Guatemala City - Pengadilan Guatemala menjatuhkan hukuman penjara 360 tahun kepada dua bekas perwira militer Guatemala. Komandan markas militer Sepur Zarco, Francisco Reyes Giron, dan anggota komisi paramiliter, Heriberto Valdez Asij, terbukti bersalah melakukan kejahatan kemanusiaan berupa pembunuhan, pemerkosaan, dan perbudakan seks terhadap sejumlah perempuan suku Mayan.
     
    Pengadilan Guatemala membuat putusan bersejarah yang pertama kali bagi kejahatan kemanusiaan yang dilakukan aparat militer saat pecah konflik tahun 1980-an.

    "Ini sebuah sejarah. Ini merupakan langkah besar bagi para perempuan dan bagi semua korban," kata peraih Nobel Perdamaian, Rigoberta Menchu, yang menghadiri sidang ini, seperti dikutip BBC, Sabtu, 27 Februari 2016.

    Baca juga: Menang di South Carolina, Hillary Clinton: Terima Kasih

    Reyes Giron terbukti bersalah melakukan kejahatan seksual dan perbudakan seksual terhadap 15 perempuan. Dia juga terbukti bersalah membunuh seorang perempuan dan dua anak perempuannya.

    Sedangkan Valdez Asij dihukum bersalah karena melakukan perbudakan seksual dan menghilangkan paksa tujuh pria.

    Para korban sudah sejak lama menuntut pertanggungjawaban hukum atas kejahatan yang terjadi di Sepur Zarco. Tuntutan mereka tidak sia-sia.

    Baca juga: Korea Utara Klaim Punya Senjata Anti-Tank Terbaru

    "Kami diperkosa. Ini semua terjadi. Seandainya tidak, ke mana suami-suami kami? Kami tidak tahu di mana mereka saat ini," ucap Demesia Yac, 70 tahun, mewakili para korban perkosaan dan perbudakan seksual kasus Sepur Zarco.

    Jaksa penuntut menjelaskan, angkatan bersenjata melakukan serangan balasan ke desa Sepur Zarco pada 1982. Mereka membunuh dan membawa pergi sejumlah tokoh adat suku Mayan yang saat itu mengajukan status tanah adat mereka, sehingga menimbulkan kemarahan tuan tanah.

    Baca juga: McDonald Larang Remaja Makan dan Duduk di Restorannya

    Para tokoh adat Mayan ini pun dituduh bersekutu dengan gerilyawan sayap kiri. "Mereka membunuh tujuh orang, melemparkan dua granat ke arah mereka," tutur Agustin Chen, saksi korban.

    Chen adalah satu dari sejumlah pria yang selamat dari pembunuhan aparat militer. Tentara menangkap dan membawanya ke ruang tahanan. Chen dipukuli setiap hari.

    Menurut ahli antropologi Irma Alicia Velasques Nimatuj, aparat militer ditempatkan di desa itu untuk mengamankan pertanian para tuan tanah dan mengambil alih lahan-lahan masyarakat adat.

    Berdasarkan informasi dari para korban, penyiksaan oleh aparat berlangsung selama enam tahun hingga markas militer itu ditutup tahun 1988.

    BBC | MARIA RITA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.