Pertama Kali di India, Taksi Disopiri Kaum Homo

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemuja Hindu membawa patung dewa Ganesa ke dalam taksi dalam festival Ganesh Chaturthi, di Mumbai, India, 29 Agustus 2014. Festival tersebut berlangsung selama 10 hari. (AP/Rafiq Maqbool)

    Pemuja Hindu membawa patung dewa Ganesa ke dalam taksi dalam festival Ganesh Chaturthi, di Mumbai, India, 29 Agustus 2014. Festival tersebut berlangsung selama 10 hari. (AP/Rafiq Maqbool)

    TEMPO.COMumbai - Bermula dari matanya sepet bila dia melihat kaum yang tergabung ke dalam Komunitas Homo, Lesbi, dan Transjender (LGBT), pimpian Sanjeevani Chauhan, berdiri di perempatan lampu merah mengemis, maka muncullah ide mendidik mereka menjadi sopr taksi.

    "Ketika Anda melihat seorang transjender atau gay mengemudikan sebuah taksi di Mumbai, transjender lainnya yang mengemis di jalanan akan punya keinginan menjadi bagian dari perubahan ini," ucap Ganesh Somwanshi, direktur proyek Wings Rainbow, perusahaan taksi pertama di India yang memperkerjakan sopir-sopir dari LGBT.

    Wings Travel bersama Humsafar Trust, keduanya LSM di Mumbai, yang memperjuangkan hak-hak kaum gay di India sangat mendukung upaya pengentasan kaum homo melalui program sopir taksi Wings Rainbow. Diharapkan, mereka bisa menyediakan sedikitnya 1.500 taksi pada akhir tahun ini.

    "Ada begitu banyak di antara kami yang melakukan perdagangan seks atau mengemis di jalanan,"kata Chauhan, yang bekerja sebagai konsultan untuk Humsafar selama tiga tahun, kepada Al Jazeera.

    "Bekerja sebagai seorang sopir taksi tidak hanya akan memberikan sebuah pekerjaan dan keamanan bagi kami, melainkan juga sebuah penghormatan dan penerimaan masyarakat terhadap kami yang berbeda," imbuhnya. Menurut data pemerintah, ada sekitar 2,5 juta kaum gay di India.

    Meskipun India melegalkan transjender, kaum LGBT tetap terpinggirkan, tidak dapat ditoleransi, dan memiliki sedikit peluang berkumpul di masyarakat.

    Sebelum menjalankan proyeknya, Somwanshi membutuhkan waktu sedikitnya dua bulan bertemu dengan setiap orang di belahan dunia untuk membicarakan masalah transjender. "Kami juga melakukan penelitian dan berbicara denga para gay, lesbian dan kaum transjender serta bertanya kepada mereka mengenai proyek seperti ini."

    Dari beberapa kali pertemuan dengan mereka, Somwanshi menjelaskan, ada yang tidak yakin bahwa mereka bakal mendapatkan pelanggan atau penumpang. "Mereka juga bilang, bagaimana kalau penumpang itu tidak bayar."

    Pada 2014, Mahkamah Agung India mengakui jenis kelamin ketiga, selain pira dan wanita. Mereka juga mendapatkan jaminan yang sama dalam menempuh pendidikan, pekerjaan, dan mendapatkan surat izin mengemudi. Meskipun demikian, hukum di India masih terpengaruh oleh bekas kolonial Inggris sehingga kaum homoseksual tetap mendapatkan hukuman.

    AL JAZEERA | CHOIRUL AMINUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.