Tragis! Gadis Ini Bunuh Diri Akibat Alergi Jaringan Wi-Fi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi WiFi. telegraph.co.uk

    Ilustrasi WiFi. telegraph.co.uk

    TABLOIDBINTANG.COM, Jakarta - Seorang remaja bernama Jenny Fry meninggal dunia akibat reaksi alergi terhadap jaringan Wi-Fi di sekolahnya.

    Gadis berusia 15 tahun yang bersekolah di Chipping Norton School di Oxfordshire, Inggris, ini menderita eclectromagnetic hypersensitivity (EHS) atau hipersensitivitas elektromagnetik. Akibat kondisinya, Jenny memutuskan mengakhiri hidupnya secara tragis dengan cara bunuh diri.

    Tubuh Jenny ditemukan dalam kondisi tergantung di Brooke Woods, Oxfordshire, pada 11 Juni 2015 lalu.

    Ibu Jenny, Debra Fry, meyakini kematian Jenny disebabkan oleh alerginya terhadap Wi-Fi. Dia mengatakan, putrinya mulai mengalami gejala-gejala ini sejak 2012.

    Gejala yang ditimbulkan akibat gangguan kesehatan ini membuat Jenny mengalami keletihan, kesulitan berkonsentrasi, mual-mual, sakit kepala, gangguan menstruasi, dan jantung berdebar-debar.

    Dilansir Telegraph, Jenny mulai menunjukkan gejala saat berada di sekolah, khususnya saat berada di beberapa wilayah tertentu. Ternyata, dideteksi bahwa kondisi tubuhnya dipengaruhi Wi-Fi yang terpasang di sekolahnya.

    Sang ibu menceritakan, Jenny kerap menerima hukuman dari sekolah karena perilakunya yang tidak mengikuti aturan. Jenny kerap keluar dari kelas untuk mencari lokasi yang membuatnya dapat belajar dengan nyaman. Ini akhirnya membuat Jenny kerap dihukum dan membuat kondisinya semakin parah.

    "Saya membawa banyak informasi ke sekolah untuk diperlihatkan kepada kepala sekolah, tapi dia menyampaikan informasi bahwa kondisi Wi-Fi aman. Saya juga terlibat dalam penjelasan panas dengan guru-guru lain dan mengatakan bahwa Jenny alergi terhadap Wi-Fi, dan bagi mereka itu tidak masuk akal," ungkap Debra.

    Keluarga Jenny kini melakukan kampanye untuk meningkatkan kesadaran terhadap EHS dan berharap penggunaan tekonologi wireless di sekolah dapat diperhatikan dengan lebih baik.

    "Jenny meninggal setelah berteriak meminta tolong. Dia mengirimkan pesan kepada temannya untuk memberi tahu keinginannya mengakhiri hidup sekaligus memberi tahu keberadaannya."

    "Jika dia berniat bunuh diri, dia tidak akan mengatakan keberadaannya. Sayangnya, temannya tidak memegang handphone-nya saat itu. Jadi dia tidak melihat pesan tersebut pada saat dikirimkan."

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut gangguan EHS ini sebagai masalah yang memprihatinkan bagi individu yang menderitanya dan diestimasi menyerang hanya sedikit orang.

    "Jenny meninggalkan surat untuk kami di mana dia mengatakan tidak dapat menghadapi alergi akibat Wi-Fi," ungkap Debra.

    tabloidbintang.com


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.