Tony Abbott Bujuk Lagi Jokowi, Ini Hasilnya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siswa menunjukkan kardus bergambar PM Australia Tony Abbott saat aksi Koin Untuk Australia di SD Muhammadiyah 4 Pucang, Surabaya, 23 Februari 2015. Para siswa mendukung pemerintah untuk meneruskan eksekusi mati bagi warga Australia terpidana kasus narkoba tersebut. TEMPO/Fully Syafi

    Siswa menunjukkan kardus bergambar PM Australia Tony Abbott saat aksi Koin Untuk Australia di SD Muhammadiyah 4 Pucang, Surabaya, 23 Februari 2015. Para siswa mendukung pemerintah untuk meneruskan eksekusi mati bagi warga Australia terpidana kasus narkoba tersebut. TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO, Jakarta -- Akhirnya Perdana Menteri Australia Tony Abbott  menghubungi Presiden Joko Widodo, Rabu malam lalu, terkait dengan hukuman mati terhadap dua warga Australia yang tersangkut kasus narkoba. Menurut Abbott, Jokowi memahami posisi Australia dalam kasus Bali Nine itu.

    Abbott mengatakan Presiden Jokowi tengah mempertimbangkan posisi Indonesia mengenai hukuman mati terhadap dua warga Australia, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran. PM Abbott tidak bersedia mengungkapkan rincian pembicaraan keduanya. “Namun Presiden (Jokowi) sangat mengerti posisi kami dan saya pikir dia mempertimbangkan dengan hati-hati posisi Indonesia,” kata Abbott seperti dilansir situs Sydney Morning Herald, 26 Februari 2015.

    Menurut Abbott, percakapan dengan Jokowi, yang disebutnya sebagai teman, merupakan sebuah sinyal positif. Namun Abbott mengaku percakapan tersebut tidak menjadi tanda bahwa Chan dan Sukumaran, yang menyelundupkan narkoba 8,3 kilogram pada 2005 dan dijatuhi hukuman mati pada 2006, akan bebas dari regu tembak.

    Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir, membenarkan bahwa PM Abbott menelepon Presiden Jokowi. Ia menyatakan pemerintah Indonesia memahami tindakan yang dilakukan Abbott untuk melindungi warga negaranya.

    Hubungan kedua negara memanas setelah Presiden Jokowi menolak grasi yang diajukan 11 terpidana mati, termasuk Sukumaran, 33 tahun, dan Chan, 31 tahun. Selain dari Australia, kritik datang dari Brasil, dan sebelumnya Belanda dan Prancis.

    DEWI SUCI RAHAYU | NATALIA SANTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Palapa Ring Akan Rampung Setelah 14 Tahun

    Dicetuskan pada 2005, pembangunan serat optik Palapa Ring baru dimulai pada 2016.