Aktivis Dokter Cemaskan Kekerasan di Afrika Tengah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pengungsi Muslim mendengarkan radio di gereja Katolik di Carnot, Republik Afrika Tengah (16/4). Republik Afrika Tengah terjadi kekerasan sektarian pada bulan Desember 2013. Ribuan pasukan penjaga perdamaian Perancis dan Afrika berusaha untuk membantu menstabilkan negara itu. AP/Jerome Delay

    Seorang pengungsi Muslim mendengarkan radio di gereja Katolik di Carnot, Republik Afrika Tengah (16/4). Republik Afrika Tengah terjadi kekerasan sektarian pada bulan Desember 2013. Ribuan pasukan penjaga perdamaian Perancis dan Afrika berusaha untuk membantu menstabilkan negara itu. AP/Jerome Delay

    TEMPO.CO, Bangui – Kelompok aktivis dokter kemanusiaan, Dokter Lintas Batas (Medecins Sans Frontieres/MSF), mencemaskan tingginya kekerasan yang terorganisasi terhadap penduduk sipil oleh kelompok bersenjata di Provinsi Grimari dan Bambari di Negara Bagian Ouaka, Republik Afrika Tengah.

    ”Selama enam minggu terakhir, tim kami di lapangan telah menyaksikan bagaimana kekerasan bermotif balas dendam dilancarkan di desa-desa, yang mengakibatkan ribuan orang terbunuh dan telantar,” ujar Koordinator Proyek MSF Luigi Pandolfi dalam siaran pers yang diterima Tempo, Selasa, 17 Juni 2014.

    Serangan terbaru terjadi pada 10 Juni lalu di Liwa--berjarak sepuluh kilometer dari markas Pasukan Militer Internasional di Bambari. Serangan itu menghancurkan sedikitnya 160 rumah dan menewaskan 12 orang.

    ”Waktu mengadakan konsultasi medis dan mengevakuasi korban luka dari Liwa, saya melihat mayat tiga orang dewasa dan satu anak terbakar di dalam rumahnya pada saat serangan,” ujar Pandolfi. Menurut laporan warga desa, mereka telah dibakar hidup-hidup.

    Dalam beberapa minggu terakhir, sejumlah desa seperti Bakala, Yabita, dan Lakanja di Provinsi Grimari dan Bambari telah dibakar sebagian atau seluruhnya. Akibatnya, penduduk sipil tidak punya pilihan selain melarikan diri ke dalam hutan setelah kehilangan sebagian besar harta benda, peralatan untuk bertani, dan biji-bijian.

    Dalam dua bulan terakhir, MSF telah merawat 97 korban luka akibat serangan terhadap penduduk sipil di Ouaka. Banyak korban cedera akibat perang yang harus menempuh perjalanan selama 24 jam untuk mencapai klinik.

    Kekerasan yang terus berlangsung tidak hanya berakibat pembantaian besar-besaran dan penyiksaan yang meluas, tapi juga pengungsian massal karena banyak penduduk sipil yang ketakutan dan ingin melarikan diri dari serangan.

    ”Kami menyediakan bantuan kepada penduduk yang kondisinya sudah rentan dan kini semakin parah karena konsekuensi konflik dan ketelantaran,” ujar Pandolfi.

    Selain kekerasan, malaria juga mengancam masyarakat setempat. Malaria adalah penyebab kematian utama di daerah ini. Lebih dari 71 pasien positif mengidap malaria karena banyak orang telantar yang tidur di luar ruangan, seperti di hutan-hutan. Adapun musim hujan telah tiba sehingga mereka semakin rentan terhadap malaria.

    Lembaga dokter tersebut telah melayani Ouaka sejak pertengahan April 2014. Lebih dari 1.000 orang mendapatkan konsultasi kesehatan dasar melalui klinik berjalan. Di Republik Afrika Tengah, MFS telah berdiri sejak 1997. Kini MSF memiliki lebih dari 300 anggota staf internasional dan lebih dari 2.000 pekerja lokal. Sejak Desember 2013, pelayanan medis ditingkatkan dari 10 hingga 21 proyek di Republik Afrika Tengah, ditambah 6 proyek untuk pengungsi yang berada di negara tetangga seperti Chad, Kamerun, dan Republik Demokratik Kongo.

    NATALIA SANTI

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.