Mantan Kanselir Jerman Dukung Putin Soal Ukraina  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ribuan orang pro-Rusia menykasikan siara langsung saat Presiden Rusia Vladimir Putin bebicara mengenai Crimea di Sevastopol, Crimea (18/3). Crimea bergabung dengan Rusia sejalan dengan

    Ribuan orang pro-Rusia menykasikan siara langsung saat Presiden Rusia Vladimir Putin bebicara mengenai Crimea di Sevastopol, Crimea (18/3). Crimea bergabung dengan Rusia sejalan dengan "norma-norma demokrasi dan hukum internasional". AP/Vadim Ghirda

    TEMPO.CO, Berlin - Mantan Kanselir Jerman, Gerhard Schroeder, memberikan dukungan terhadap Presiden Vladimir Putin atas tindakannya terhadap Ukraina. Dia mengkritik langkah kelompok negara industri raksasa atau G-8 yang telah mengisolasi Rusia. Bahkan, dia mendukung argumen Kremlin yang membandingkan aneksasi wilayah Crimea dengan intervensi NATO di Provinsi Kosovo, Serbia, pada 1999.

    "Pada waktu itu pun kami serta NATO mengirim pesawat ke Serbia dan menjatuhkan bom di atas negara berdaulat tanpa resolusi Dewan Keamanan PBB," ujar sahabat Putin itu di Reuters, Kamis, 27 Maret 2014. (baca: Rusia Duduki Pangkalan Angkatan Laut Ukraina).

    Schroeder menjabat sebagai kanselir Jerman pada 1998-2005. Dia telah bersahabat dengan Putin sejak dikucilkan Presiden Amerika, George W. Bush, pada 2003. Menurut Schroeder, NATO dan Uni Erpa tidak sensitif terhadap kepentingan Rusia. "Dan memperburuk krisis dengan membuat Ukraina memilih berhubungan erat ke Barat atau Rusia," ujar Schroeder. (baca: Rusia Perkuat Cengkraman Militer di Ukraina).

    Menurut komisioner Parlemen Jerman, yang juga anggota oposisi dari Partai Hijau, Manuel Sarrazin, Schroeder telah menyebarkan propaganda soal Kremlin. Bahkan, ia menduga bila Schroeder telah dibayar guna menjadi juru bicara Rusia. "Dia menjadi pelayan Rusia dengan konflik kepentingan yang besar," ujar Sarrazin.

    Pada saat ini, Schroeder merupakan ketua dewan perusahaan pipa gas kerja sama dengan Rusia yang dimonopoli Gazprom. Di posisi itu dia mendapatkan gaji sekitar 250 ribu euro, setara Rp 3,9 miliar. Jerman adalah pembeli terbesar ekspor gas alam Rusia.  

    Sebagian besar gas Rusia untuk Eropa disalurkan melalui Ukraina. Hal itulah yang membatasi kemampuan Moskow untuk bermain keras dalam negosiasi dengan Kiev. Sebab, itu bisa memunculkan ancaman pematian gas Ukraina yang bakal berdampak ke pelanggan di Eropa.

    Schroeder sendiri menyatakan hubungannya dengan Putin lebih dari sekedar bisnis. "Saya memahami jalan pikiran Putin," ujar dia.



    REUTERS | CORNILA DESYANA

    Terpopuler:
    Filipina dan Muslim Moro Resmi Berdamai 
    Satelit Thailand Temukan 300 Serpihan Diduga MH370
    Tim Indonesia Salurkan Bantuan Pengungsi Afrika 
    Takut Diintai AS, Cina Perkuat Pengamanan Internet 
    Kasus MH370, Ini Sebab Turis Cina Ogah ke Malaysia

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.