NSA: Snowden Bocorkan 200.000 Dokumen Rahasia  

Reporter

Editor

Abdul Manan

Jumat, 15 November 2013 21:18 WIB

Markas Besar agen keamanan Amerika, National Security Agency (NSA) di Fort Meade, Maryland. wikimedia.com

TEMPO.CO, Washington - Badan intelijen Amerika Serikat, National Security Agency (NSA) menaksir ada sekitar 200.000 dokumen rahasia negara AS yang dibocorkan kepada media oleh eks analis lembaga ini, Edward Snowden. Pernyataan iini disampaikan Direktur NSA Jenderal Keith Alexander akhir bulan lalu.

Dalam sesi tanya-jawab setelah ceramah di depan sekelompok pemerhati urusan luar negeri di Baltimore, 31 Oktober 2013, Alexander ditanya ihwal langkah apa yang dilakukan pemerintah untuk menghentikan Snowden membocorkan informasi tambahan kepada wartawan.

"Saya berharap ada cara untuk mencegahnya. Snowden telah membagikan antara 50 dan 200.000 dokumen kepada wartawan. Ini akan terus keluar," kata Alexander.

Para penyelidik yang menangani kasus Snowden mengindikasikan bahwa jumlah dokumen yang bisa diakses Snowden mencapai ratusan ribu dokumen. Pejabat AS mengaku mengetahui berbagai dokumen yang bisa diakses Snowden, tapi mereka tetap tak yakin dokumen mana yang sudah dia unduh untuk dibocorkan ke media.

Sebagai perbandingan, jumlah dokumen Departemen Pertahanan dan Departemen Luar Negeri yang dibocorkan ke WikiLeaks oleh prajurit militer AS yang kesal jauh lebih besar. Wikileaks memperoleh sekitar 400.000 laporan Pentagon tentang perang Irak, serta 250.000 kabel diplomatik Departemen Luar Negeri dan puluhan ribu dokumen operasi AS di Afghanistan.

Tak satu pun dari bahan yang didapat WikiLeaks diklasifikasikan lebih tinggi dari "Rahasia ", sedangkan dokumen NSA yang dibocorkan Snowden banyak yang diberi label "Sangat Rahasia". Materi dari dokumen yang dibocorkan Snowden mencakup rincian sangat teknis ihwal kegiatan pengupingan yang dilakukan AS dan negara sekutunya.

Pengungkapan Snowden kepada media soal operasi rahasia badan intelijen AS, yang pertama kali muncul pada bulan Juni, masih menyebabkan sakit kepala bagi pemerintahan Presiden Barack Obama, khususnya dalam urusan dengan negara sekutunya. Misalnya, Jerman sangat marah dengan adanya laporan bahwa NSA memonitor telepon seluler Kanselir Jerman, Angela Merkel.

Matthew Olsen, Direktur Pusat Kontra-Terorisme Nasional di Kantor Direktur Intelijen Nasional AS, menyebut pembocoran oleh Snowden bersifat "sangat merusak." " Tidak ada keraguan bahwa pembocoran itu membuat tugas kami lebih berat. Kami telah melihat bahwa teroris atau musuh mempelajari cara-cara kami mengumpulkan informasi intelijen dan mereka berusaha untuk beradaptasi dan mengubah cara-cara mereka berkomunikasi, " katanya dalam sidang dengar pendapat dengan Kongres AS, Kamis, 14 November 2013.

Beberapa hari yang lalu, para pejabat AS mengatakan, sebuah panel yang berisi mantan pejabat dan pakar yang dibentuk oleh Obama untuk mengkaji operasi NSA telah melaporkan kesimpulan sementaranya ke Gedung Putih. Laporan akhir kelompok ini dijadwalkan akan kelar 15 Desember 2013.

Laporan tersebut, bersamaan dengan kajian terpisah yang dilakukan Gedung Putih, kemungkinan akan menyebabkan perubahan kebijakan yang hasilnya akan diumumkan akhir tahun ini.

Snowden saat ini ada di Rusia setelah mendapatkan suaka sementara selama satu tahun sejak Agustus lalu.

REUTERS | ABDUL MANAN






Indonesia Sumbang 1,09 Persen Kasus Covid-19 Dunia

7 Februari 2021

Indonesia Sumbang 1,09 Persen Kasus Covid-19 Dunia

Indonesia saat ini menempati urutan ke-19 kasus sebaran Covid-19 dari 192 negara.


Orient Riwu Kore Mengaku Ikut Pilkada Sabu Raijua karena Amanat Orang Tua

6 Februari 2021

Orient Riwu Kore Mengaku Ikut Pilkada Sabu Raijua karena Amanat Orang Tua

Bupati Sabu Raijua terpilih, Orient Riwu Kore, mengungkapkan alasannya mengikuti pemilihan kepala daerah 2020


Tidak Lagi Jadi Presiden, Pemakzulan Donald Trump Tak Cukup Kuat

4 Februari 2021

Tidak Lagi Jadi Presiden, Pemakzulan Donald Trump Tak Cukup Kuat

Tim pengacara Donald Trump berkeras Senat tak cukup kuat punya otoritas untuk memakzulkan Trump karena dia sudah meninggalkan jabatan itu.


Keluarga Korban Sriwijaya Air SJ 182 Diminta Tak Teken Release And Discharge

3 Februari 2021

Keluarga Korban Sriwijaya Air SJ 182 Diminta Tak Teken Release And Discharge

Pengacara keluarga korban Lion Air JT 610 meminta ahli waris korban Sriwijaya Air SJ 182 tidak meneken dokumen release and discharge atau R&D.


Krisis Semikonduktor, Senator Amerika Desak Gedung Putih Turun Tangan

3 Februari 2021

Krisis Semikonduktor, Senator Amerika Desak Gedung Putih Turun Tangan

Pada 2019 grup otomotif menyumbang sekitar sepersepuluh dari pasar semikonduktor senilai 429 miliar dolar Amerika Serikat.


Amerika Serikat Longgarkan Aturan soal Imigran Suriah

30 Januari 2021

Amerika Serikat Longgarkan Aturan soal Imigran Suriah

Imigran dari Suriah mendapat kelonggaran aturan sehingga mereka bisa tinggal di Amerika Serikat dengan aman sampai September 2022.


Tutorial Membuat Bom Ditemukan di Rumah Pelaku Kerusuhan US Capitol

30 Januari 2021

Tutorial Membuat Bom Ditemukan di Rumah Pelaku Kerusuhan US Capitol

Tutorial pembuatan bom ditemukan di rumah anggota kelompok ekstremis Proud Boys, Dominic Pezzola, yang didakwa terlibat dalam kerusuhan US Capitol


Amerika Serikat Kecam Pembebasan Pembunuh Jurnalis Oleh Pakistan

29 Januari 2021

Amerika Serikat Kecam Pembebasan Pembunuh Jurnalis Oleh Pakistan

Pemerintah Amerika Serikat mengecam pembebasan pembunuh jurnalis Wall Street, Journal Daniel Pearl, oleh Mahkamah Agung Pakistan.


Amerika Serikat Izinkan Pensiunan Dokter Lakukan Vaksinasi Covid-19

29 Januari 2021

Amerika Serikat Izinkan Pensiunan Dokter Lakukan Vaksinasi Covid-19

Pemerintah Amerika Serikat kini mengizinkan dokter dan perawat yang sudah pensiun untuk memberikan suntikan vaksin Covid-19


Jenderal Israel Minta Joe Biden Tidak Bawa AS Kembali Ke Perjanjian Nuklir Iran

27 Januari 2021

Jenderal Israel Minta Joe Biden Tidak Bawa AS Kembali Ke Perjanjian Nuklir Iran

Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Letnan Jenderal Aviv Kochavi mengatakan hal yang salah jika AS kembali ke perjanjian nuklir Iran