NSA: Snowden Bocorkan 200.000 Dokumen Rahasia  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Markas Besar agen keamanan Amerika, National Security Agency (NSA) di Fort Meade, Maryland. wikimedia.com

    Markas Besar agen keamanan Amerika, National Security Agency (NSA) di Fort Meade, Maryland. wikimedia.com

    TEMPO.CO, Washington - Badan intelijen Amerika Serikat, National Security Agency (NSA) menaksir ada sekitar 200.000 dokumen rahasia negara AS yang dibocorkan kepada media oleh eks analis lembaga ini, Edward Snowden. Pernyataan iini disampaikan Direktur NSA Jenderal Keith Alexander akhir bulan lalu.

    Dalam sesi tanya-jawab setelah ceramah di depan sekelompok pemerhati urusan luar negeri di Baltimore, 31 Oktober 2013, Alexander ditanya ihwal langkah apa yang dilakukan pemerintah untuk menghentikan Snowden membocorkan informasi tambahan kepada wartawan.

    "Saya berharap ada cara untuk mencegahnya. Snowden telah membagikan antara 50 dan 200.000 dokumen kepada wartawan. Ini akan terus keluar," kata Alexander.

    Para penyelidik yang menangani kasus Snowden mengindikasikan bahwa jumlah dokumen yang bisa diakses Snowden mencapai ratusan ribu dokumen. Pejabat AS mengaku mengetahui berbagai dokumen yang bisa diakses Snowden, tapi mereka tetap tak yakin dokumen mana yang sudah dia unduh untuk dibocorkan ke media.

    Sebagai perbandingan, jumlah dokumen Departemen Pertahanan dan Departemen Luar Negeri yang dibocorkan ke WikiLeaks oleh prajurit militer AS yang kesal jauh lebih besar. Wikileaks memperoleh sekitar 400.000 laporan Pentagon tentang perang Irak, serta 250.000 kabel diplomatik Departemen Luar Negeri dan puluhan ribu dokumen operasi AS di Afghanistan.

    Tak satu pun dari bahan yang didapat WikiLeaks diklasifikasikan lebih tinggi dari "Rahasia ", sedangkan dokumen NSA yang dibocorkan Snowden banyak yang diberi label "Sangat Rahasia". Materi dari dokumen yang dibocorkan Snowden mencakup rincian sangat teknis ihwal kegiatan pengupingan yang dilakukan AS dan negara sekutunya.

    Pengungkapan Snowden kepada media soal operasi rahasia badan intelijen AS, yang pertama kali muncul pada bulan Juni, masih menyebabkan sakit kepala bagi pemerintahan Presiden Barack Obama, khususnya dalam urusan dengan negara sekutunya. Misalnya, Jerman sangat marah dengan adanya laporan bahwa NSA memonitor telepon seluler Kanselir Jerman, Angela Merkel.

    Matthew Olsen, Direktur Pusat Kontra-Terorisme Nasional di Kantor Direktur Intelijen Nasional AS, menyebut pembocoran oleh Snowden bersifat "sangat merusak." " Tidak ada keraguan bahwa pembocoran itu membuat tugas kami lebih berat. Kami telah melihat bahwa teroris atau musuh mempelajari cara-cara kami mengumpulkan informasi intelijen dan mereka berusaha untuk beradaptasi dan mengubah cara-cara mereka berkomunikasi, " katanya dalam sidang dengar pendapat dengan Kongres AS, Kamis, 14 November 2013.

    Beberapa hari yang lalu, para pejabat AS mengatakan, sebuah panel yang berisi mantan pejabat dan pakar yang dibentuk oleh Obama untuk mengkaji operasi NSA telah melaporkan kesimpulan sementaranya ke Gedung Putih. Laporan akhir kelompok ini dijadwalkan akan kelar 15 Desember 2013.

    Laporan tersebut, bersamaan dengan kajian terpisah yang dilakukan Gedung Putih, kemungkinan akan menyebabkan perubahan kebijakan yang hasilnya akan diumumkan akhir tahun ini.

    Snowden saat ini ada di Rusia setelah mendapatkan suaka sementara selama satu tahun sejak Agustus lalu.

    REUTERS | ABDUL MANAN


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya

    Grafis

    Tren Covid-19 Kembali Meningkat Sepekan Setelah Lebaran, Sudah Siap Jadi Endemi?

    Kasus virus corona melonjak sepekan setelah libur lebaran. Di kesempatan lain, Satgas Penanganan Covid-19 menyatakan pandemi mulai transisi ke endemi.