Bus Tentara Afganistan Diserang Bom Bunuh Diri

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP/David Guttenfelder

    AP/David Guttenfelder

    TEMPO.CO, Kabul  — Ledakan bom bunuh diri terjadi lagi di ibu kota Afganistan, Kabul.  Seorang pelaku bom bunuh diri Taliban mengenakan jaket warna hitam melintasi jalan di Kota Kabul menuju sebuah bus  yang penuh dengan tentara Afganistan.

    Pelaku lalu merangkak ke bawah bus dan meledakkan bom di tubuhnya sehingga bagian bawah bus terbakar. Dia tewas dan sedikitnya 10 orang, yang terdiri atas enam tentara dan empat warga sipil, luka-luka.

    Ledakan bom ini adalah yang kedua di ibu kota pada satu pekan ini. Serangan ini mengingatkan orang pada kemampuan gerilyawan Taliban untuk menghantam pemerintah Afganistan, meski dijaga 100 ribu pasukan internasional.

    Bus-bus yang digunakan pemerintah Afganistan untuk mengantar tentara, polisi, dan pegawainya ke pusat kota setiap hari kerap menjadi sasaran serangan gerilyawan Taliban.

    Saat kejadian, tentara-tentara tersebut baru hendak menaiki bus. Menurut seorang saksi mata, Ahmad Shakib, yang menyaksikan kejadian dari seberang jalan, pelaku tampak berjalan dengan tenang dan tidak tergesa-gesa melintasi jalanan yang bersalju. Ketika dia merangkak ke dalam bus, Shakib mengira pria itu pembantu sopir yang ingin memperbaiki sesuatu.

    Pemilik toko roti dekat tempat kejadian mengaku enam orang pelanggannya yang sedang antre ikut cedera. Jenderal kaca toko pecah. Juru bicara Taliban, Zabiullah Mujahid, mengaku bertanggung jawab atas kejadian itu melalui pesan pendek kepada The Associated Press.

    Serangan terjadi tiga hari setelah seorang tersangka pelaku bom bunuh diri berhasil ditembak mati polisi Kabul. Penyerang mengendarai kendaraan berisi bahan peledak, dengan sasaran kantor badan intelijen di dekat tempat kejadian.

    AP | NATALIA SANTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?