Topan Sandy Picu Kolera dan Kelaparan di Haiti

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pasien penderita Kolera memegang rekam medisnya di Pusat Perawatan Kolera di Carrefour,  Port-au-Prince, Haiti, (7/6). REUTERS/Swoan Parker

    Seorang pasien penderita Kolera memegang rekam medisnya di Pusat Perawatan Kolera di Carrefour, Port-au-Prince, Haiti, (7/6). REUTERS/Swoan Parker

    TEMPO.CO, Port Au Prince - Badai Sandy tak hanya menghancurkan kota-kota besar di Amerika Serikat. Haiti, sebuah negara kepulauan berada di kawasan Karibia, pun tak lepas terkena imbas badai yang dikenal dengan nama Frankenstrom ini (Baca: Nama Badai Sandy Diusulkan untuk Diubah).

    Pemerintah Haiti, seperti yang dikutip dari Washington Post, menyatakan 70 persen ladang pertanian di kawasan selatan rusak akibat Sandy. Tak hanya lahan pertanian, ratusan ternak dikabarkan mati akibat badai yang menghentak pada 29-30 Oktober 2012 di Amerika Serikat itu. Menteri Pertanian Haiti, Jean Debalio Jean-Jacques, menuturkan belum ada data resmi besar kerugian akibat badai. Tapi yang jelas, banyak petani miskin akan tidak memiliki stok makanan karena dampak badai.

    Mata dari badai Sandy melewati kawasan barat Haiti pada malam 24 Oktober. Hujan lebat yang menyebabkan banjir hingga 20 inci terjadi dalam 24 jam terakhir sebelum badai menyentuh Amerika Serikat. Pemerintah setempat melaporkan badai telah menewaskan 52 orang, angka tertinggi korban Sandy di kawasan Karibia.

    Dengan jumlah penduduk yang masih banyak berada di tenda pengungsian akibat gempa 2010, Haiti menjadi negara terparah terkena dampak Sandy. Saat Sandy menyapa, menurut The Guardian, 370 ribu warga masih tinggal di pengungsian. Ancaman pascabadai yang lebih buruk lagi adalah kolera dan krisis pangan.

    "Warga Haiti masih berjuang untuk mendapatkan tempat tinggal layak, tapi setiap bencana datang, usaha tersebut gagal lagi." ujar kepala kantor PBB di Haiti, Johan Paleman. Negara kecil ini selalu terkena bencana yang parah tiap ada badai. Akibatnya, dana kemanusiaan tergerus habis dari Rp 19 triliun (US$ 2 miliar) menjadi Rp 721 miliar (US$ 75 juta).

    Menurut catatan pemerintah, ada 20 penduduk masih hilang. Selama empat hari ini, kawasan barat dan barat daya masih terendam air setinggi 50 sentimeter. Untuk mencegah penyakit pascabadai, OXFAM dan Palang Merah telah mendistribusikan peralatan kesehatan dan alat pemurnian air. Pemerintah bersama lembaga-lembaga bantuan juga telah menyiapkan makanan dan benih-benih tanaman pangan untuk bersiap menghadapi krisis pangan.

    "Sandy sebenarnya adalah bencana kecil, tapi akan memberi dampak besar," ujar kepala perwakilan OXFAM di ibu kota Haiti, POrt-au-Prince. Hujan badai kemarin, kata dia, hanya menyisakan pohon jeruk. Tapi, dampaknya banyak orang yang akan kehilangan pendapatan dalam beberapa bulan ke depan.

    Pemerintah Haiti telah memperingatkan warga tentang ancaman bencana dalam beberapa bulan ke depan. "Di bulan November tampaknya akan ada badai lagi," ujar ahli meteorologi lokal. Jadi, kata ahli tersebut, jika pemerintah tak segera tanggap, 2012 akan jadi tahun bencana bagi Haiti.

    DIANING SARI

    Berita Terpopuler
    Badai Sandy, Semua Sekolah di New York Libur

    Badai Sandy Juga Goncang Linimasa Twitter

    Antara Sandy, Halloween, dan Frankenstorm

    Bloomberg: Badai Sandy Kali Ini yang Terbesar

    Angkatan Bersenjata Libya Gagal Kuasai Bani Walid

    Kritik Pemerintah, Vietnam Penjarakan Penulis Lagu

    Badai Sandy Padamkan Server


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.