Fotografer AFP Warga Afganistan Raih Pulitzer

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi Afganistan berjaga di sekitar lokasi protes pembakaran Alquran, di Kabul (22/2). REUTERS/Ahmad Masood

    Polisi Afganistan berjaga di sekitar lokasi protes pembakaran Alquran, di Kabul (22/2). REUTERS/Ahmad Masood

    TEMPO.CO , NEW YORK: -- Fotografer Agence France-Presse (AFP), Massoud Hossaini, 30 tahun, meraih penghargaan Pulitzer untuk kategori fotografi terbaik. Ini juga menjadi penghargaan pertama yang diraih AFP.


    Hossaini terbang dari negaranya, di Afganistan, ke New York, Amerika Serikat, untuk menerima penghargaan bergengsi itu.


    Karya Hossaini yang dianugerahi Pulitzer adalah potret seorang anak perempuan menangis ketakutan dikelilingi tubuh yang sudah kaku tak bernyawa akibat serangan bom bunuh diri di Kabul pada 6 Desember 2011. Foto itu dimuat di halaman depan sejumlah surat kabar dan situs berita di dunia.


    Saat peristiwa ledakan bom bunuh diri terjadi, Hossaini hanya berjarak beberapa meter dari tempat ledakan itu. Sedikitnya 70 orang tewas. Mereka adalah muslim Syiah yang sedang memperingati hari meninggalnya cucu Nabi Muhammad atau Ashura.


    “Saya gembira saya dapat menyuarakan orang-orang yang tewas,” kata Hossaini saat menerima penghargaan itu. Ia mengungkapkan, penghargaan tersebut juga sebagai dukungan bagi media dan jurnalis di Afganistan.


    “Ini akan membantu seluruh jurnalis untuk bekerja serius. Ini sesuatu yang bagus menyaksikan kenyataan yang kami tunjukkan, bukan oleh jurnalis barat, tentang pengakuan oleh lembaga besar dari barat seperti penghargaan Pulitzer ini,” ujarnya.


    Sedangkan anak perempuan yang ada di foto Hossaini diketahui bernama Tarana Akbari, yang juga disebut “anak perempuan bergaun hijau”. Ia diwawancarai oleh AFP bulan lalu.


    “Bagaimana bisa saya tetap hidup? Saya menyaksikan semua orang di sekeliling saya tewas, hanya saya yang hidup,” ujar Akbari, yang kakinya terluka akibat bom bunuh diri dan berharap segera bersekolah setelah lukanya sembuh.


    ASIA ONE | MARIA RITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.