Janda Bin Ladin Meninggalkan Pakistan Malam Ini

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto paspor Amal Ahmed al-Sadah, salah satu janda Usamah bin Ladin. dailymail.co.uk

    Foto paspor Amal Ahmed al-Sadah, salah satu janda Usamah bin Ladin. dailymail.co.uk

    TEMPO.CO, Islamabad - Tiga janda mendiang Usamah bin Ladin dan sembilan anak mereka dijadwalkan meninggalkan Pakistan hari ini. Mereka dideportasi ke Arab Saudi dengan penerbangan terakhir.

    Hampir setahun setelah serbuan Navy SEAL Amerika Serikat yang menewaskan mantan pemimpin Al-Qaidah itu di sebuah kompleks di Pakistan barat laut, para janda ini baru diadili bulan lalu. Mereka dituduh masuk ke Pakistan secara ilegal dan menjalani hukuman beberapa pekan.

    Mereka diinterogasi oleh pejabat Pakistan dan divonis pada 2 April, dan dijatuhi hukuman 45 hari penjara. Penjara yang dimaksud adalah sebuah rumah yang dijaga ketat di Islamabad.

    Ihwal kenapa mereka baru diadili sekarang, banyak pihak berspekulasi bahwa Pakistan khawatir informasi dari para janda akan menunjukkan andil Bin Ladin dalam persembunyiannya di negara itu tanpa terendus. Rumah persembunyian musuh nomor satu Amerika Serikat ini di Abbottabad hanya sekitar satu kilometer dari salah satu akademi militer terbesar di Pakistan.

    Pemerintah Pakistan, sampai Bin Ladin terbunuh, selalu membantah mengetahui keberadaan pemimpin teroris itu. Tapi rincian yang bocor ke media dari interogasi terhadap salah seorang janda Bin Ladin menimbulkan pertanyaan lebih lanjut tentang bagaimana ia mampu hidup di negara itu tanpa diketahui dalam waktu begitu lama.

    Amal Ahmed Abdel-Fatah al-Sada, janda termuda Usamah bin Ladin, menyatakan sebelumnya mereka berpindah-pindah hingga lima rumah selama sembilan tahun bersembunyi. Mereka memiliki empat anak selama pelariannya dan dua di antaranya lahir di rumah sakit pemerintah Pakistan.

    TRIP B | USA TODAY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    OTT Bupati Kolaka Timur, Simak Fakta Penangkapan dan Profil Andi Merya

    Bupati Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Andi Merya Nur, ditangkap KPK dalam OTT. Ia diduga menerima suap yang berhubungan dengan dana hibah BNPB.