Eksklusif TEMPO dari Libya: Melongok Bunker Rumah Putra Qadhafi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bunker rumah Mu\'tasim Qadhafi. TEMPO/Faisal Assegaf

    Bunker rumah Mu\'tasim Qadhafi. TEMPO/Faisal Assegaf

    TEMPO Interaktif, Tripoli - Di kawasan Bin 'Asyur terdapat rumah milik Mu'tasim Billah Qadhafi. Sekitar 10 menit dari jantung Ibu Kota Tripoli, Libya. Tempat tinggal lelaki berumur 34 tahun itu kini dijaga ketat oleh para pemberontak. Tidak sembarang orang boleh masuk, termasuk wartawan.

    Rumah itu menempati lahan sekitar 30 ribu meter persegi. Dipagari tembok setinggi 20 meter. Rumah ini memiliki dua gerbang utama. Namun hanya satu yang boleh dibuka. Di sekeliling tembok pagar terdapat coretan dan gambar, antara lain gambar Qadhafi yang lari membawa buntelan fulus saat dikejar pemberontak.

    Berbeda dengan kondisi di Bab al-Aziziyah, kediaman Mu'tasim tidak terlalu rusak parah. Memang terdapat pecahan kaca jendela ruang fitness, namun tidak ada reruntuhan puing atau tembok hitam bekas dijilati api. Semua ruangan di sana tetap seperti semula, hanya perabotannya yang berantakan. Pihak pemberontak sudah menguasai rumah ini sejak bulan lalu. Qadhafi memberikan rumah itu kepada Mu'tasim lima tahun lalu.

    Menurut Saleh, 32 tahun, warga kawasan Pasar Zuma, daerah Bin 'Asyur dari dulu dikenal sebagai basis pendukung pemimpin Libya Muammar Qadhafi. "Terutama kaum lelaki, karena itu rumah mereka besar-besar,” katanya. Ia menambahkan, di tempat tinggalnya, semua orang benci Qadhafi dan bahkan 10 tahun lalu pernah berusaha membunuh pemimpin yang kini berusia 69 tahun itu.

    Mu'tasim adalah putra kelima dari delapan anak pemimpin Libya terguling, Muammar Qadhafi. Ia lahir dari rahim Safiyah, istri kedua Qadhafi. Dari istri pertamanya, Fathiyah, pemimpin yang berkuasa selama 42 tahun itu hanya dikaruniai Muhammad.

    Jabatan terakhir yang ia sandang sejak tahun lalu adalah penasihat keamanan nasional. Setahun setelah pemilihan Presiden Amerika Serikat, pada 2009 ia bertemu Senator John McCain dan Joe Lieberman. Ia meminta negara adikuasa itu memberikan dukungan militer terhadap Libya.

    Di tahun yang sama, beredar selentingan bahwa Mu'tasim adalah seorang gay. Isu ini muncul setelah kematian Ibnu al-Syekh al-Libi, yang diyakini sebagai pasangan homo seksualnya. Pihak Barat menuding Libi yang memiliki nama asli Ali Muhammad al-Fakhiri sebagai pelatih militer buat anggota Al-Qaidah.

    Saat Tempo berkunjung ke sana, Kamis, 8 September 2011, sebuah mobil milik pemberontak terparkir di luar gerbang. Seorang lelaki tua dengan rambut dan jenggot sudah putih serta berseragam militer warna gurun mengizinkan masuk setelah Tempo memperkenalkan diri. Sekitar tujuh pemberontak tampak sedang berbaring di sebuah kasur di bawah pohon rindang.

    Seorang pemuda dengan baret merah dan senapan AK-47 tersandang mengantar Tempo mengelilingi kompleks kediaman itu. Setelah berjalan lima puluh meter, ada sebuah gerbang yang setelah dibuka akan tampak taman begitu luas dan ditumbuhi pelbagai tanaman. Sejauh mata memandang, hanya ada lapangan luas berumput tebal. Di sebelah kanan, terdapat bangunan bercat oranye, pusat listrik dan air di rumah itu. Jauh ke dalam, sekitar setengah kilometer, terdapat dua bangunan yang sama-sama bercat oranye.

    Sebelum memasuki tempat fitness yang memiliki peralatan serba lengkap, kita akan melewati koridor yang di sisinya terdapat sebuah kolam yang masih berisi ikan. Bangunan ini dilengkapi kamar mandi, ruang pijat, jacuzzi, ruang sauna, dan tempat berganti pakaian. Di depan bangunan lokasi fitness ini terdapat sebuah bar dan kolam renang.

    Berjalan ke arah samping, kita akan menemui rumah yang hanya berisi tiga ruangan yang semuanya berukuran 10x10 meter persegi, yakni ruang tamu yang menghadap kolam renang, kamar tidur, dan dapur yang digabung dengan tempat makan.

    Di tengah-tengah lapangan yang luas terdapat bunker. Untuk masuk ke sana, kita harus menuruni 30 anak tangga. Lubang perlindungan ini memiliki banyak kamar dan koridor, termasuk ruang pertemuan, ruang tamu, kamar persediaan oksigen, serta kamar tidur yang dilengkapi kamar mandi. Namun Tempo tidak diizinkan menyusuri seluruh lorong bunker karena tidak diketahui di mana ujungnya.

    Bunker ini tingginya sekitar dua meter, terang, dan dilengkapi alat penyejuk udara. Menurut seorang pemberontak, bisa saja bunker ini terhubung dengan sejumlah tempat strategi, seperti Bab al-Aziziyah, bandar udara, atau lokasi lain yang bisa dijadikan jalan kabur jika ada musuh.

    FAISAL ASSEGAF (TRIPOLI)



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.