3.000 Tenaga Medis Prancis Diberhentikan tanpa Upah karena Tolak Vaksin Covid-19

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pekerja medis menyiapkan dosis vaksin Covid-19 dari Pfizer-BioNTech di pusat vaksinasi di Paris, Prancis, 23 Juli 2021. Pendapatan BioNTech melonjak menjadi 5,3 miliar euro pada kuartal kedua (Q2) 2021, naik dari 42 juta euro pada periode yang sama tahun lalu. REUTERS/Sarah Meyssonnier

    Seorang pekerja medis menyiapkan dosis vaksin Covid-19 dari Pfizer-BioNTech di pusat vaksinasi di Paris, Prancis, 23 Juli 2021. Pendapatan BioNTech melonjak menjadi 5,3 miliar euro pada kuartal kedua (Q2) 2021, naik dari 42 juta euro pada periode yang sama tahun lalu. REUTERS/Sarah Meyssonnier

    TEMPO.CO, Jakarta - Prancis memberhentikan 3.000 tenaga medis tanpa menerima upah karena menolak disuntik vaksin covid-19 menjelang tenggat waktu terakhir pekan ini. Hal itu diungkapkan Menteri Kesehatan Prancis Olivier Veran pada Kamis, 16 September 2021.

    Pemberhentian itu hanya dua hari setelah dokter dan petugas kesehatan melakukan protes massal terhadap kewajiban vaksinasi yang dianggap banyak orang sebagai pelanggaran terhadap kebebasan sipil.

    Badan kesehatan masyarakat nasional Prancis memperkirakan sekitar 12 persen staf rumah sakit dan 6 persen dokter di rumah sakit maupun klinik swasta belum divaksinasi. Ini membuat pemerintah memutuskan menjatuhkan skorsing terhadap 3.000 orang tenaga medis.

    Presiden Emmanuel Macron telah mengultimatum staf di rumah sakit, pekerja panti jompo, dan dinas pemadam kebakaran pada Juli lalu untuk mendapatkan setidaknya satu suntikan vaksin Covid-19 paling lambat 15 September 2021. Jika menolak, mereka akan menghadapi penangguhan dan tidak dibayar.

    "Sekitar 3.000 tenaga medis di pusat kesehatan dan klinik yang belum divaksinasi sudah ditangguhkan," kata Veran kepada radio RTL.

    Dia menambahkan puluhan orang telah mengundurkan diri dari pekerjaannya alih-alih mendaftar untuk vaksin Covid-19.

    Menurut Veran, penangguhan hanya bersifat sementara. Meski ada petugas medis yang menolak divaksinasi, sebagian besar mendukung suntikan vaksin Covid-19.

    Berdasarkan angka yang diberikan oleh masing-masing rumah sakit, jumlah karyawan yang ditangguhkan bisa lebih banyak.

    Rumah sakit di Paris mengatakan pada Kamis, 16 September 2021, bahwa 340 pekerja telah diskors. Sedangkan laporan media lokal, jumlah petugas yang diskors mencapai 450 orang di Nice dan 100 orang di Perpignan.

    Kewajiban vaksinasi Covid-19 untuk tenaga medis tak hanya di Prancis, namun akan  berlaku pula di Italia dan Inggris. Italia mengumumkan semua pekerja harus membawa bukti telah divaksinasi atau hasil tes negatif Covid-19.

    Di Inggris, tenaga medis dan pekerja sosial akan diwajibkan vaksinasi Covid-19 untuk menahan penyebaran virus selama musim dingin.

    DAILY MAIL | REUTERS

    Baca: Moderna Sebut Proteksi dari Vaksin COVID-19 Berpotensi Melemah Seiring Waktu


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Peringkat Pertama Covid-19 Recovery Index Asia Tenggara: Begini Kondis

    Indonesia berada di peringkat pertama di Asia Tenggara dalam Covid-19 Recovery Index yang dirilis media Jepang. Ada hal yang masih jadi perhatian.