Tidak Dilibatkan Pakta AUKUS, Uni Eropa Bikin Kebijakan Indo-Pasifik Sendiri

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bendera Uni Eropa berkibar di luar kantor pusat Komisi Eropa di Brussel, Belgia 21 Agustus 2020. [REUTERS / Yves Herman]

    Bendera Uni Eropa berkibar di luar kantor pusat Komisi Eropa di Brussel, Belgia 21 Agustus 2020. [REUTERS / Yves Herman]

    TEMPO.CO, Jakarta - Uni Eropa menetapkan strategi formal pada Kamis untuk meningkatkan kehadirannya di Indo-Pasifik dan melawan kekuatan China yang meningkat, berjanji untuk mencari kesepakatan perdagangan dengan Taiwan dan mengerahkan lebih banyak kapal untuk menjaga rute laut terbuka.

    Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell bersikeras bahwa strategi itu juga terbuka untuk China, khususnya di bidang-bidang seperti perubahan iklim, tetapi para diplomat mengatakan kepada Reuters hubungan yang lebih dalam dengan India, Jepang, Australia, dan Taiwan ditujukan untuk membatasi kekuatan China.

    Borrell juga mengatakan kesepakatan AUKUS pada Rabu antara Amerika Serikat, Australia dan Inggris untuk membangun kemitraan keamanan untuk Indo-Pasifik, di mana UE tidak dikonsultasikan, menunjukkan perlunya kebijakan luar negeri yang lebih tegas.

    Dia mengatakan UE sangat ingin bekerja dengan Inggris dalam bidang keamanan tetapi London tidak menunjukkan minat sejak meninggalkan UE, dan mengungkapkan penyesalan Australia telah membatalkan kesepakatan kapal selam senilai US$40 miliar (Rp570 triliun) dengan Prancis karena pakta AUKUS.

    "Kita harus bertahan hidup sendiri, seperti yang dilakukan orang lain," kata Borrell ketika dia mempresentasikan strategi baru UE untuk kawasan Indo-Pasifik, berbicara tentang "otonomi strategis" yang telah diperjuangkan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron, dikutip dari Reuters, 17 September 2021.

    "Saya mengerti sejauh mana pemerintah Prancis kecewa," katanya.

    Ketua Uni Eropa, Charles Michel, mengatakan kesepakatan AS dengan Australia dan Inggris, "lebih lanjut menunjukkan perlunya pendekatan Uni Eropa bersama di wilayah kepentingan strategis."

    Mengikuti rencana awal pada bulan April, UE menetapkan tujuh bidang yang akan meningkatkan pengaruhnya di Indo-Pasifik, di bidang kesehatan, keamanan, data, infrastruktur, lingkungan, perdagangan, dan kelautan.

    Rencana tersebut dapat memberi profil diplomatik UE yang lebih tinggi tentang masalah Indo-Pasifik, lebih banyak personel dan investasi UE di kawasan itu, dan kehadiran keamanan seperti mengirim kapal melalui Laut Cina Selatan, atau menempatkan orang Eropa dalam patroli Australia.

    "Mengingat pentingnya kehadiran angkatan laut Eropa yang berarti di Indo-Pasifik, UE akan mencari cara untuk memastikan peningkatan pengerahan angkatan laut oleh negara-negara anggotanya di kawasan itu," kata dokumen itu.

    Pembicaraan perdagangan dengan Taiwan kemungkinan akan semakin mengganggu China, mitra dagang terbesar kedua UE, setelah Lithuania memperdalam hubungan dengan pulau itu. China menganggap Taiwan yang sangat demokratis dan berpemerintahan sendiri sebagai bagian dari "Satu China", untuk bersatu dengan China daratan.

    UE akan bekerja untuk menyelesaikan negosiasi perdagangan dengan Australia dan Selandia Baru, mencari kesepakatan dengan India dan memperkuat hubungan yang lebih kuat dengan negara-negara yang sudah memiliki kesepakatan perdagangan, seperti Korea Selatan. UE juga akan mengejar perjanjian perdagangan dan investasi dengan Taiwan.

    Uni Eropa, blok perdagangan terbesar di dunia, juga akan mencari hubungan maritim yang lebih dekat dengan Australia, Selandia Baru, Indonesia, dan Jepang, menjanjikan lebih banyak pengerahan angkatan laut untuk berpatroli di rute perdagangan yang diklaim China.

    Baca juga: Mengenal AUKUS, Pakta Trisula untuk Memperkuat Militer Australia di Indo-Pasifik

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Peringkat Pertama Covid-19 Recovery Index Asia Tenggara: Begini Kondis

    Indonesia berada di peringkat pertama di Asia Tenggara dalam Covid-19 Recovery Index yang dirilis media Jepang. Ada hal yang masih jadi perhatian.