PBB: Target Penanganan Perubahan Iklim Kemungkinan Akan Meleset

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ribuan bangkai ikan berserakan di pantai kawasan Horcones, Cile, 3 Februari 2021. Ribuan ikan itu diduga mati akibat perubahan iklim. REUTERS/Jose Luis Saavedra

    Ribuan bangkai ikan berserakan di pantai kawasan Horcones, Cile, 3 Februari 2021. Ribuan ikan itu diduga mati akibat perubahan iklim. REUTERS/Jose Luis Saavedra

    TEMPO.CO, Jakarta - PBB dan organisasi meteorologi dunia menyampaikan bahwa kecepatan perubahan iklim tidak melamban meski aktivitas ekonomi global terpukul oleh pandemi COVID-19. Data di lapangan, kata mereka, menunjukkan upaya pemangkasan emisi karbon masih jauh dari harapan.

    "Pandemi COVID-19 hanya sementara menurunkan angka emisi karbon dioksida pada tahun lalu. Hal tersebut tidak cukup untuk menekan naiknya level gas efek rumah kaca di atmosfer," ujar Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), Kamis, 16 September 2021.

    Jika pemangkasan emisi karbon tak segera dipangkas,WMO mengatakan besar kemungkinan target Perjanjian Paris (Paris Agreement) tak akan tercapai. Target Perjanjian Paris adalah menekan suhu bumi sebesar 1,5 derajat Celcius pada 2050.

    Rata-rata suhu global pada lima tahun terakhir adalah yang tertinggi dalam sejarah. Kurang lebih 1,06 hingga 1,2 derajat Celcius di atas masa pra-industri. Dengan angka tersebut, menurut WMO, kemungkinannya 40 persen rata-rata suhu global pada lima tahun ke depan mencapai 1,5 derajat Celcius lebih hangat dibanding level pra-industri.

    Sekjen PBB Antonio Guterres menyuarakan kekhawatiran yang sama. Ia berkata, dunia berada pada titik kritis perihal penanganan perubahan iklim. Menurutnya, dunia sudah meleset lumayan jauh untuk mencapai target Perjanjian Paris.

    "Tahun ini kami mendapati emisi bahan bakar fosil naik lagi, begitu pula gas rumah kaca yang konsentrasinya kian tingg. Ini akan berdampak pada hajat hidup orang banyak di seluruh dunia."

    "Konsentrasi Karbon Dioksida, Metana, dan Nitro Oksida, terus naik pada 2020 dan semester satu 2021," ujar Guterres menegaskan soal situasi Perubahan Iklim di dunia.

    Guterres, seperti WMO, mendesak langkah cepat dari negara-negara anggotanya dan pelaku industri untuk menekan emisi gas rumah kaca. Jika tidak, upaya pencegahan pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius dibanding level pra-industri tak akan tercapai.

    Indonesia, parlu diketahui, menetapkan tenggat 2060 perihal target nol emisi. Angka itu lebih lambat satu dekade dibanding target Paris Agreement soal pencegahan perubahan iklim.

    Baca juga: Perubahan iklim: Anak-anak muda di dunia ‘sangat khawatir’, di Indonesia ‘takut rumah kebanjiran’

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Persebaran Pengungsi di Indonesia Menurut UNHCR

    PBB mengucurkan dana untuk program respons sosial ekonomi inklusif untuk menghadapi Covid-19. UNHCR mendata persebaran penerima manfaat di Indonesia.