Bank Dunia Prediksi Ekonomi Myanmar Bisa Merosot 10 Persen karena Kudeta Militer

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjuk rasa anti-kudeta militer membuat barikade saat mereka terlibat bentrok dengan pasukan keamanan di Jembatan Bayint Naung di Mayangone, Yangon, Myanmar, 16 Maret 2021. Hingga kini sudah sekitar 200 demonstran yang tewas akibat kekerasan dari militer Myanmar. REUTERS/Stringer

    Pengunjuk rasa anti-kudeta militer membuat barikade saat mereka terlibat bentrok dengan pasukan keamanan di Jembatan Bayint Naung di Mayangone, Yangon, Myanmar, 16 Maret 2021. Hingga kini sudah sekitar 200 demonstran yang tewas akibat kekerasan dari militer Myanmar. REUTERS/Stringer

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Dunia memperingatkan ekonomi Myanmar bisa merosot sampai 10 persen tahun ini karena kekacauan sejak kudeta militer bulan lalu.

    Bank Dunia (World Bank) pada Jumat memangkas perkiraannya untuk ekonomi Myanmar menjadi kontraksi 10% pada tahun 2021 dari pertumbuhan yang diharapkan sebelumnya, menurut laporan Reuters, 26 Maret 2021.

    "Myanmar sangat terpengaruh oleh protes, pemogokan pekerja, dan tindakan militer; pengurangan mobilitas; dan gangguan yang sedang berlangsung terhadap layanan publik penting selain perbankan, logistik, dan layanan internet," kata Bank Dunia.

    Departemen Keuangan AS telah mengumumkan sanksi baru yang menargetkan Myanma Economic Holdings Public Company Limited dan Myanmar Economic Corporation Limited.

    Keduanya adalah bagian dari jaringan konglomerasi yang dikendalikan militer Myanmar yang mencakup sektor-sektor mulai dari pertambangan hingga pariwisata dan telah memperkaya para jenderal. Perwakilan dari kedua entitas tersebut belum memberikan komentar.

    Para pengunjuk rasa terlibat bentrok dengan petugas keamanan di tengah aksi protes anti-kudeta di Hlaing Township di Yangon, Myanmar, 17 Maret 2021. REUTERS/Stringer

    Dalam langkah yang dikoordinasikan dengan Amerika Serikat, mantan kolonial Myanmar, Inggris, mengatakan akan menargetkan Myanmar Economic Holdings Ltd, dengan alasan pelanggaran hak asasi manusia terhadap warga sipil dan hubungannya dengan tokoh militer senior.

    Baca juga: Inggris Jatuhkan Sanksi Terhadap Konglomerat Milik Militer Myanmar

    Sekelompok mantan legislator NLD menyambut baik langkah tersebut. Dr Sasa, seorang dokter medis dan telah menjadi juru bicara legislator NLD, mengatakan di Facebook bahwa semua pemerintah lain harus mengikuti langkah Inggris dan Amerika Serikat untuk bekerja sama dan memberlakukan sanksi yang ditargetkan, lebih kuat dan lebih keras terhadap rezim militer tidak sah.

    Uni Eropa mengumumkan sanksi pada 11 individu Myanmar pada hari Senin dan diharapkan menargetkan konglomerat segera.

    Tetapi meskipun banyak pemerintah asing mengutuk tindakan junta militer, Thomas Andrews, pelapor khusus PBB untuk hak asasi manusia di Myanmar, mengatakan tanggapan diplomatik lambat dan menyerukan KTT darurat untuk krisis di Myanmar.

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H