Tidak Terima Dikenai Sanksi Terkait Muslim Uighur, Cina Balas Uni Eropa

Polisi Cina berjaga di sekitar pusat pendidikan keterampilan kejuruan untuk Muslim Uighur yang dikelilingi pagar berduri di Yining, Xinjiang, Cina, 4 September 2018. Pusat pendidikan tersebut dibangun di beberapa tempat di wilayah Xinjiang. REUTERS

TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Cina membantah tuduhan mereka telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia terhadap Muslim Uighur di Xinjiang. Menurut Mereka, tuduhan tersebut tidak berdasar. Sebagai balasannya, mereka balik memberikan sanksi kepada Uni Eropa, pihak pertama yang memberinya sanksi terkait pelanggaran HAM tersebut.

Dikutip dari Channel News Asia, sanksi dari Cina menyasar anggota parlemen, diplomat, institut, serta bisnis-bisnis asal negara anggota Uni Eropa. Efeknya, selain mereka tidak bisa berkunjung ke Cina, mereka juga tidak akan bisa melakukan transaksi ekonomi dengan entitas di negeri tirai bambu itu,

"Politisi Jerman, Reinhard Butikofer, yang memimpin delegasi Parlemen Eropa untuk urusan Cina, adalah salah satu yang dikenai sanksi. Selain itu organisasi non-profit Alliance of Democracies Foundation yang dibentuk oleh mantan Sekjen Nato Anders Fogh Rasmussen," ujar Kementerian Luar Negeri Cina dalam keterangan persnya, Selasa, 23 Maret 2021.

Negara-negara di Eropa tidak menerima sanksi tersebut. Beberapa di antaranya adalah Jerman, Belanda, dan Belgia. Belanda bahkan telah meminta Duta Besar Cina ke Den Haag untuk menjelaskan sanksi itu.

Politisi Belanda, Sjoerd Sjoerdsma, menyatakan reaksi keras dari Cina adalah tanda mereka sensitif terhadap tekanan internasional. Hal itu, kata ia, bisa menjadi motivasi kepada negara-negara yang menentang praktik pelanggaran HAM di Xinjiang untuk tidak takut bersikap tegas dan menyuarakan kebenaran.

"Sanksi tersebut adalah bukti Cina mudah tertekan. Jadikan ini penyemangat untuk semua kolega saya di Eropa," ujar Sjoerdsma yang merupakan anggota parlemen asal Belanda dan pendukung pemberian sanksi ke Cina.

Diberitakan sebelumnya, Amerika, Uni Eropa, Kanada, dan Inggris bersama-sama menerbitkan sanksi baru untuk Cina. Mereka memberikan sanksi terhadap empat pejabat dan satu entitas Cina yang berbasis di Xinjiang. Alasannya, karena mereka sudah mengumpulkan cukup bukti soal pelanggaran HAM terhadap Muslim Uighur di Xinjiang.

Menurut pernyataan keempatnya, Muslim Uighur ditahan di kamp konsentrasi. Di sana, Muslim Uighur disiksa, diperkerjakan paksa, dan disterilkan untuk mencegah jumlah mereka bertambah.

Cina, seperti dikatakan di atas, membantah hal ini. Cina selalu berpegang pada pernyataan bahwa para Muslim Uighur mengikuti pendidikan kejuruan di Xinjiang.

Terlepas balasan dari Cina, Menteri Luar Negeri Amerika Antony Blinken memuji respon bersama yang ada. "Hal ini menunjukkan bahwa respon trans-Atlantik memberikan sinyal yang lebih kuat terhadap mereka yang melenggar hak asasi manusia," ujar Blinken terkait isu Muslim Uighur di Xinjiang.

Baca juga: Usai Myanmar, Negara Barat Beri Sanksi ke Cina Terkait Muslim Uighur

ISTMAN MP | CHANNEL NEWS ASIA






Malaysia Dikecam, Abstain dalam Sidang Dewan HAM PBB tentang Muslim Uyghur

4 jam lalu

Malaysia Dikecam, Abstain dalam Sidang Dewan HAM PBB tentang Muslim Uyghur

Keputusan Malaysia untuk abstain dari pemungutan suara dalam sidang Dewan HAM PBB tentang Uyghur adalah mengecewakan dan memalukan.


Anggota Dewan HAM PBB Tolak Bahas Kasus Muslim Uyghur, termasuk Indonesia

12 jam lalu

Anggota Dewan HAM PBB Tolak Bahas Kasus Muslim Uyghur, termasuk Indonesia

"Kami tidak akan pernah menyerah tetapi kami sangat kecewa dengan reaksi negara-negara Muslim," kata presiden Kongres Uyghur Dunia.


Kaspersky Temukan Penginstal Tor Browser Terinfeksi Didistribusikan via YouTube

20 jam lalu

Kaspersky Temukan Penginstal Tor Browser Terinfeksi Didistribusikan via YouTube

Kaspersky mengatakan sebagian besar pengguna yang terkena dampak berasal dari Cina.


Xi Jinping Diprediksi Akan Lebih Menekan Taiwan Jika Terpilih Jadi Presiden

22 jam lalu

Xi Jinping Diprediksi Akan Lebih Menekan Taiwan Jika Terpilih Jadi Presiden

Taiwan memprediksi pemaksaan dan intimidasi dari Cina akan meningkat begitu Presiden Xi Jinping mengambil masa jabatan ketiganya.


Dukung Wanita Iran, Anggota Parlemen Uni Eropa Potong Rambut di Mimbar

1 hari lalu

Dukung Wanita Iran, Anggota Parlemen Uni Eropa Potong Rambut di Mimbar

Anggota Parlemen Eropa asal Swedia memotong rambutnya saat berpidato sebagai solidaritas dengan perempuan Iran


Android Vs iPhone, Uni Eropa Putuskan Pilih Charging Port Tipe USB-C

2 hari lalu

Android Vs iPhone, Uni Eropa Putuskan Pilih Charging Port Tipe USB-C

Uni Eropa telah memutuskan, untuk yang pertama di dunia, menetapkan penggunaan koneksi kabel untuk pengisian daya atau charging port tunggal.


Investasi Uni Eropa di Jawa Tengah 4,9 Juta Dolar, Ganjar: Belum Banyak

3 hari lalu

Investasi Uni Eropa di Jawa Tengah 4,9 Juta Dolar, Ganjar: Belum Banyak

Nilai investasi dari negara anggota Uni Eropa di Jawa Tengah baru 4,9 US Dollar.


Kapal Pesiar Diduga Milik Miliarder Asal Rusia yang Kena Sanksi Bakal Dilelang

3 hari lalu

Kapal Pesiar Diduga Milik Miliarder Asal Rusia yang Kena Sanksi Bakal Dilelang

Kapal pesiar mewah diduga milik miliarder asal Rusia, Igor Kasaev, dilelang. Kasaev dikenai sanksi dampak invasi Rusia ke Ukraina.


Tindak Keras Demonstran Kematian Mahsa Amini, Iran Bakal Dijatuhi Sanksi oleh 6 Negara Uni Eropa

4 hari lalu

Tindak Keras Demonstran Kematian Mahsa Amini, Iran Bakal Dijatuhi Sanksi oleh 6 Negara Uni Eropa

Jerman, Prancis, Denmark, Spanyol, Italia, dan Republik Ceko mengajukan usulan sanksi Uni Eropa terhadap Iran karena menekan unjuk rasa Mahsa Amini


Uni Eropa Bakal Rapat untuk Bahas Masalah Energi dan Ukraina

4 hari lalu

Uni Eropa Bakal Rapat untuk Bahas Masalah Energi dan Ukraina

Para pemimpin negara Uni Eropa akan melakukan rapat membahas dukungan untuk Ukraina serta harga energi yang semakin melonjak.