12 Warga Myanmar Tewas Saat Pemerintah Sipil Serukan Revolusi

Reporter:
Editor:

Ahmad Faiz Ibnu Sani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Biarawati Ann Rose Nu Tawng (berjubah putih) berlutut di hadapan para polisi di Myitkyina, Myanmar, 8 Maret 2021. Seorang biarawati Myanmar kembali berlutut di depan polisi di kota Myanmar utara dan memohon kepada mereka untuk berhenti menembak pengunjuk rasa yang menentang kudeta bulan lalu. MYITKYINA NEWS JOURNAL/Handout via REUTERS

    Biarawati Ann Rose Nu Tawng (berjubah putih) berlutut di hadapan para polisi di Myitkyina, Myanmar, 8 Maret 2021. Seorang biarawati Myanmar kembali berlutut di depan polisi di kota Myanmar utara dan memohon kepada mereka untuk berhenti menembak pengunjuk rasa yang menentang kudeta bulan lalu. MYITKYINA NEWS JOURNAL/Handout via REUTERS

    TEMPO.CO, Pasukan keamanan Myanmar dilaporkan menewaskan sedikitnya 12 orang di saat pemerintah bayangan untuk pertama kalinya muncul ke publik dan menyerukan revolusi membatalkan kudeta militer.

    Mengutip laporan Reuters, Sabtu, 13 Maret 2021, lima orang ditembak mati dan beberapa lainnya cedera ketika polisi melepaskan tembakan pada aksi demonstrasi duduk di Mandalay.

    Satu orang tewas di pusat kota Pyay dan dua orang meninggal dunia karena ditembak polisi di Yangon. Tiga orang juga tewas dalam semalam, media domestik melaporkan.

    "Mereka bertingkah seperti berada di zona perang, dengan orang-orang tak bersenjata," kata aktivis yang berbasis di Mandalay, Myat Thu. Dia mengatakan korban tewas termasuk seorang anak berusia 13 tahun.

    Si Thu Tun, pengunjuk rasa lainnya, mengatakan dia melihat dua orang ditembak, termasuk seorang biksu Buddha. “Salah satunya terkena di tulang kemaluan, satu lagi ditembak hingga tewas,” ucap dia.

    Di Pyay, seorang saksi mata mengatakan pasukan keamanan menghentikan ambulan yang berusaha mendekati korban luka. Akibatnya satu orang meninggal dunia.

    Seorang sopir truk di Chauk, sebuah kota di tengah Wilayah Magwe, juga tewas setelah ditembak di dada oleh polisi, kata seorang teman keluarga.

    Seorang juru bicara junta tidak menjawab panggilan telepon dari Reuters untuk meminta komentar. Siaran berita malam MRTV yang dikelola oleh Junta media menyebut para pengunjuk rasa sebagai "penjahat" tetapi tidak merinci lebih lanjut.

    Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik mengatakan hingga kini lebih dari 70 orang tewas di Myanmar dalam protes yang meluas terhadap kudeta militer.

    Baca juga: Pemerintah Bayangan Myanmar Janjikan Revolusi untuk Menggulingkan Junta

    Sumber: REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Operasi Ketupat 2021 Demi Menegakkan Larangan Mudik, Berlaku 6 Mei 2021

    Sekitar 166 ribu polisi diterjunkan dalam Operasi Ketupat 2021 untuk menegakkan larangan mudik. Mereka tersebar di lebih dari 300 titik.