Pria di Jerman Semprotkan Bubuk Merica untuk Jaga Jarak Berurusan dengan Polisi

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga Jerman memprotes kebijakan lockdown yang diberlakukan untuk menghentikan penyebaran virus corona. Sumber: Reuters

    Warga Jerman memprotes kebijakan lockdown yang diberlakukan untuk menghentikan penyebaran virus corona. Sumber: Reuters

    TEMPO.CO - Seorang pria lanjut usia di Aachen, Jerman menggunakan cara ekstrem untuk menjaga jarak dengan menyemprotkan bubuk merica ke orang-orang yang dianggap terlalu dekat dengannya karena khawatir tertular Covid-19.

    Pria berusia 71 tahun itu diketahui menyemprotkan bubuk merica ke sekelompok orang yang sedang berlari dan dua orang pesepeda. Dua pesepeda ini lalu melaporkannya ke kepolisian setempat.

     "Pelaku mengatakan dia tidak tahu cara lain untuk melindungi dirinya sendiri dan menjaga jarak dari orang lain," kata seorang petugas dikutip dari DW.com, Selasa, 20 Oktober 2020.

    Akibat perbuatannya, orang tua itu harus berurusan dengan hukum karena disangka menyebabkan cedera yang berbahaya dan menyebabkan gangguan lalu lintas.

    Pandemi virus corona yang terjadi di banyak negara di dunia belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Mengutip situs worldometers.info kasus positif Covid-19 di Jerman per hari ini sebanyak 373,731. Pasien yang meninggal dunia mencapai 9,899. Sedangkan yang berhasil sembuh sebanyak 294,800 orang.

    Guna mencegah penyebaran Covid-19, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengimbau untuk rajin mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak dengan orang lain minimal 2 meter.

     AHMAD FAIZ | DEUTSCHE WELLE

    Sumber:
    https://m.dw.com/en/german-man-takes-covid-19-distancing-rules-to-extreme-with-pepper-spray/a-55324372


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    QAnon dan Proud Boys, Kelompok Ekstremis Sayap Kanan Pendukung Donald Trump

    QAnon dan Proud Boys disebut melakukan berbagai tindakan kontroversial saat memberi dukungan kepada Donald Trump, seperti kekerasan dan misinformasi.