Trump: Siapapun yang Hancurkan Patung Akan Dipenjara

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden AS Donald Trump ketika menyampaikan pidato kampanye pemilihan ulang pertamanya dalam beberapa bulan di tengah wabah penyakit virus corona, di BOK Center di Tulsa, Oklahoma, AS, 20 Juni 2020. [REUTERS / Leah Millis]

    Presiden AS Donald Trump ketika menyampaikan pidato kampanye pemilihan ulang pertamanya dalam beberapa bulan di tengah wabah penyakit virus corona, di BOK Center di Tulsa, Oklahoma, AS, 20 Juni 2020. [REUTERS / Leah Millis]

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Amerika, Donald Trump, menyiapkan hukuman untuk mereka yang berani merobohkan patung tanpa izin. Ia telah mengizinkan pemerintah federal untuk memperkarakan siapapun yang merusak patung atau monumen milik pemerintah Amerika.

    "Siapapun yang melakukan aksi vandal atau merusak terhadap patung atau monumen milik pemerintah federal akan dihukum maksimal 10 tahun penjara," ujar Trump sebagaimana dikutip dari Al Jazeera, Selasa, 23 Juni 2020.

    Sebagaimana diketahui, kematian George Floyd beberapa pekan lalu memicu aksi berantai di penjuru Amerika. Selain memicu unjuk rasa anti-rasisme dan mendorong reformasi Kepolisian, kematian George Floyd juga membuat patung-patung dengan sejarah perbudakan atau kolonialisme menjadi target.

    Salah satu patung yang dirobohkan demonstran anti-rasisme adalah patung Christopher Columbus. Columbus dianggap membuka pinto kolonialisme oleh Eropa ketika ia menemukan benua Amerika. Selain itu, salah satu yang terbaru, adalah patung mantan Presiden Amerika Andrew Jackson di depan Gedung Putih.

    Tidak semua mendukung aksi perobohan patung. Beberapa orang menganggapnya berlebihan sebab beberapa patung berkaitan erat dengan sejarah Amerika. Trump hanyalah satu dari beberapa yang memprotes aksi demonstran.

    Adapun perintah Trump soal memperkarakan perusak patung menyusul pernyataan serupa dari senator republikan, Tom Cotton. Senator Arkansas itu, sebelumnya, mengatakan bahwa pemerintah federal harus mengambil sikap atas mereka yang mencoba merobohkan atau merusak patung-patung figur bersejarah Amerika.

    "Mereka yang merobohkan patung adalah kriminal yang menyamar sebagai demonstran. Mereka mengklaim mempraktikan kebebasan berpendapat, tapi hal itu tak bisa diikuti dengan penghancuran properti publik," ujar Cotton mengakhiri.

    ISTMAN MP | AL JAZEERA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bandingkan Ledakan di Beirut dengan Bom Atom Hiroshima Nagasaki

    Pemerintah Lebanon meyakini ledakan di Beirut disebabkan 2.750 ton amonium nitrat. Banyak orang membandingkannya dengan bon atom Hiroshima Nagasaki.