Gantikan Hubei, Amerika Berpotensi jadi Episentrum Virus Corona

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden AS Donald Trump berbicara tentang upaya pemerintah untuk memerangi virus Corona (COVID-19) selama briefing satuan tugas virus Corona dengan wartawan di Gedung Putih di Washington, AS, 16 Maret 2020. [REUTERS / Leah Millis]

    Presiden AS Donald Trump berbicara tentang upaya pemerintah untuk memerangi virus Corona (COVID-19) selama briefing satuan tugas virus Corona dengan wartawan di Gedung Putih di Washington, AS, 16 Maret 2020. [REUTERS / Leah Millis]

    TEMPO.CO, Jakarta - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi akan terjadi perubahan dalam peta penyebaran virus Corona. Berdasarkan data yang mereka miliki, episentrum virus Corona kemungkinan tidak akan berada di Asia lagi, namun di Amerika atau Eropa.

    "Saat ini kami melihat ada akselerasi dalam hal kasus baru di Amerika. Jadi, Amerika memiliki potensi (untuk menjadi episentrum). Saya tidak mengatakan Amerika sudah menjadi episentrum, namun mereka memiliki potensinya," ujar juru bicara WHO, Margaret Harris, sebagaimana dikutip dari kantor berita Reuters, Selasa malam, 24 Maret 2020.

    Menurut Harris, Amerika dan Eropa berpotensi menjadi episentrum baru karena dalam waktu 24 jam, jumlah kasus di keduanya meningkat 85 persen. Kurang lebih separuhnya disumbangkan oleh Amerika.

    Berdasarkan data dari South China Morning Post, Amerika menempati posisi ketiga dalam hal jumlah kasus dan korban meninggal akibat virus Corona. Per hari ini, ada 41.205 kasus dan 420 korban meninggal akibat virus dengan nama resmi COVID-19 itu

    Di Eropa, Italia menempati posisi pertama dalam hal jumlah kasus dan korban meninggal. Di sana tercatat ada 63.927 kasus dan 6.077 korban meninggal, terbesar di dunia. Namun, beberapa hari terakhir, pertumbuhan kasus baru menunjukkan penurunan.

    Lebih lanjut, meski keduanya menunjukkan potensi sebagai episentrum virus Corona yang baru, mereka punya pendekatan penanganan yang berbeda. Italia konsisten dengan kebijakan lockdownnya, kurang lebih di 25 provinsi, untuk menekan penyebaran virus Corona. Mereka bahkan berpotensi memperketatnya setelah mendapat impresi buruk dari serikat pekerja dan tenaga ahli dari Cina.

    Sementara itu, Amerika cenderung "lebih lengang". Trump tidak berani mengambil kebijakan lockdown jangka panjang karena akan berdampak ke perekonomian Amerika. Kepada awak media, Senin kemarin, ia menyatakan bahwa Amerika akan segera membuka akses lagi dalam waktu dekat.

    "Amerika tidak diciptakan untuk ditutup. Kami akan membuka lagi Amerika karena Amerika diciptakan untuk terbuka. Kita akan kembali normal seperti semula," ujar Trump tanpa memberikan timeline tertentu.

    Trump tidak hanya mencoba membuka kembali Amerika, tetapi juga mencoba menyalahkan Cina atas deritanya. Secara konsisten, Trump menyebut Cina yang harus bertanggung jawab atas pandemi global yang terjadi.

    "Saya berharap mereka bisa memberi tahu kami lebih awal perihal apa yang terjadi di Cina. Kami tidak tahu apapun sampai akhirnya wabah itu terungkap ke publik. Saya yakin kami bisa menghadirkan solusi jika tahu lebih awal," ujar Trump sebagaimana dikutip dari CNN.

    Jauh dari Amerika, Cina bersiap-siap mengakhiri lockdown pada beberapa kota di Hubei, episentrum penyebaran awal virus Corona (COVID-19). Beberapa kota, rencananya, akan diakhiri lockdownnya pada malam ini sementara Wuhan menyusul pada 8 April nanti.

    ISTMAN MP | REUTERS | SOUTH CHINA MORNING POST | CNN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.