Jam Kiamat Kini Lebih Cepat 100 Detik Menuju Tengah Malam

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Gubernur California Jerry Brown (kiri), mantan Presiden Irlandia Mary Robinson (tengah), dan mantan Sekretaris Jenderal AS Ban Ki-moon mengungkapkan Jam Kiamat 2020.[Bulletin of the Atomic Scientists/siencemag.org]

    Mantan Gubernur California Jerry Brown (kiri), mantan Presiden Irlandia Mary Robinson (tengah), dan mantan Sekretaris Jenderal AS Ban Ki-moon mengungkapkan Jam Kiamat 2020.[Bulletin of the Atomic Scientists/siencemag.org]

    TEMPO.CO, Jakarta - Jam Kiamat yang menjadi simbol metafor Hari Kiamat diatur ulang pada Kamis dengan mempercepat 100 detik sebelum tengah malam.

    Jam ini menjadi simbol akhir dunia, dan setiap tahun Bulletin of the Atomic Scientists memutuskan waktu pada jam tersebut.

    "Jam ini 100 detik menuju tengah malam. Kami sekarang mengumumkan tentang dunia dengan bencana dalam hitungan detik, bukan berjam-jam, atau bahkan beberapa menit," kata Presiden Bulletin Rachel Bronson, dikutip dari CNN, 24 Januari 2020. "Kami sekarang mengatasi keadaan darurat yang sebenarnya, keadaan dunia yang sama sekali tidak dapat diterima yang telah menghilangkan margin untuk kesalahan atau penundaan lebih lanjut."

    Ancaman nuklir dan perubahan iklim menjadi faktor utama percepatan jam.

    Saat Jam dibuat pada tahun 1947, ancaman terbesar bagi umat manusia adalah ketika AS dan Uni Soviet menuju perlombaan senjata nuklir.

    "Tapi pada 2007, kami tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu tanpa memasukan perubahan iklim," kata Bronson.

    Dalam beberapa tahun terakhir, panel ahli dan pakar Bulletin mulai melihat ancaman teknologi yang merusak, termasuk kecerdasan buatan, rekayasa genetika, dan ancaman dunia maya, kata Bronson.

    Sementara perubahan iklim dan ancaman nuklir tetap menjadi faktor utama, Buletin telah mendukung gangguan dunia maya dan berita palsu sebagai ancaman, kata Bronson. "Lingkungan informasi menjadi rumit dan semakin sulit untuk memisahkan fakta dari fiktif, dan itu telah membuat tantangan lain lebih signifikan."

    Pada tahun 2018, jam kiamat ini diatur ke 11:58 malam dan tetap seperti itu selama 2019 karena senjata nuklir Korea Utara dan perubahan iklim membuat dunia terancam.

    Dikutip dari situsnya, The Bulletin, jam kiamat dibuat pada tahun 1945 oleh para ilmuwan Universitas Chicago yang telah membantu mengembangkan senjata atom pertama di Proyek Manhattan, Bulletin of the Atomic Scientists menciptakan Jam Kiamat dua tahun kemudian, menggunakan citra kiamat (tengah malam) dan ungkapan kontemporer ledakan nuklir (hitung mundur ke nol) untuk menyampaikan ancaman kepada kemanusiaan.

    Jam kiamat diatur ulang setiap tahun oleh Dewan Bulletin’s Science and Security melalui konsultasi dengan dewan sponsornya, yang mencakup 13 penerima Hadiah Nobel. Jam kiamat telah menjadi indikator yang diakui secara universal tentang kerentanan dunia terhadap bencana dari senjata nuklir, perubahan iklim, dan teknologi yang mengganggu di wilayah lain.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekaman 8 Menit 46 Detik Drama Kematian George Floyd

    Protes kematian George Floyd berkecamuk dari Minneapolis ke berbagai kota besar lainnya di AS. Garda Nasional dikerahkan. Trump ditandai oleh Twitter.