Timor Leste Peringati Tragedi Santa Cruz

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Masyarakat Timor Leste memperingati tragedi Santa Cruz, 12 November 2019. [RAIMUNDOS OKI/TEMPO]

    Masyarakat Timor Leste memperingati tragedi Santa Cruz, 12 November 2019. [RAIMUNDOS OKI/TEMPO]

    TEMPO.CO, Dili -  Masyarakat Timor Leste dan komunitas internasional tidak akan melupakan tragedi Santa Cruz pada waktu itu. Dengan tragedi ini membangunkan PBB dan komunitas internasional tentang perjuangan di Timor Leste untuk merdeka menjadi sebuah negara baru.

    Sejak tahun 1974 sampai 1975 komunitas internasional terutama PBB menutup mata dan telinga mereka untuk tidak melihat dan mendengar tentang apa yang terjadi di Timor Leste. Seluruh dunia dan PBB sengaja tidak mau tahu perjuangan Timor Leste.

    Selama 24 tahun orang Timor Leste susah. Ribuan orang mati secara terus-menerus. Militer Indonesia melakukan penyiksaan dan pemerkosaan kepada pemuda-pemudi sesuka mereka, dan seluruh dunia menutup mata dan telinga mereka. Mereka bilang perjuangan kemerdekaan di Timor Leste sudah tidak ada lagi, sudah selesai. Timor Leste sudah mau hidup bersama dengan Republik Indonesia.

    Tiba-tiba pintu gerbang PBB dan komunitas internasional hancur terbuka lebar dengan tragedi 12 November 1991. Pemuda-pemudi Timor Leste membangunkan PBB. Menggunakan kesempatan menabur bunga di makam Sebastião Gomes di Santa Cruz, Dili, ribuan pemuda-pemudi menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa proses perjuangan kemerdekaan di Timor Leste masih berlanjut dan masih ada. Timor Leste tidak mau hidup bersama dengan Indonesia.

    Timor Leste tidak pernah kalah. Perjuangan kemerdekaan mulai terjadi di berbagai tempat. Baik di pegunungan maupun di dalam kota. Baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Pemuda Loriku Aswain pada 12 November 12 membuka dada mereka kepada peluruh panas. Mereka semua tidak takut. Mereka semua tidak kejut dengan bunyi senjata laras panjang. Butir peluruh tentara Indonesia menembus pagar Santa Cruz, pemuda banyak yang mati, tetapi tetap berteriak “mati atau hidup harus merdeka”.

    Presiden Jokowi (kanan) berjabat tangan dengan Presiden Timor Leste Francisco Guterres Lu Olo setelah menyampaikan keterangan pers bersama saat kunjungan kenegaraan di Istana Bogor, Jawa Barat, Kamis, 28 Juni 2018. ANTARA

    Pada bulan Oktober 1991, sebuah delegasi yang terdiri dari anggota parlemen Portugal dan 12 orang wartawan dijadwalkan akan mengunjungi Timor Timur. Para mahasiswa telah bersiap-siap menyambut kedatangan delegasi ini. Namun rencana ini dibatalkan setelah pemerintah Indonesia mengajukan keberatan atas rencana kehadiran Jill Jolliffe sebagai anggota delegasi itu. Jolliffe adalah seorang wartawan Australia yang dipandang mendukung gerakan kemerdekaan FRETILIN.

    Pembatalan ini menyebabkan kekecewaan mahasiswa pro-kemerdekaan yang berusaha mengangkat isu-isu perjuangan di Timor Timur. Kekecewaan ini menyebabkan situasi memanas antara pihak pemerintah Indonesia dan para mahasiswa. Puncaknya pada tanggal 28 Oktober, pecah konfrontasi antara aktivis pro-integrasi dan kelompok pro-kemerdekaan yang pada saat itu tengah melakukan pertemuan di gereja Motael Dili.

    Pada akhirnya, Afonso Henriques dari kelompok pro-integrasi tewas dalam perkelahian dan seorang aktivis pro-kemerdekaan, Sebastião Gomes yang ditembak mati oleh tentara Indonesia.

    Pada tanggal 12 November 1991, para demonstran yang terdiri dari mahasiswa dan pemuda mengadakan aksi protes mereka terhadap pemerintahan Indonesia pada prosesi penguburan rekan mereka, Sebastião Gomes. Dalam prosesi pemakaman, para mahasiswa menggelar spanduk untuk meminta penentuan nasib sendiri dan kemerdekaan, menampilkan gambar pemimpin pro-kemerdekaan Xanana Gusmão.

    Pada saat prosesi tersebut memasuki kuburan, pasukan Indonesia mulai menembak. Dari orang-orang yang berdemonstrasi di kuburan Santa Cruz, 271 tewas, 382 terluka, dan 250 menghilang. Salah satu yang meninggal adalah seorang warga Selandia Baru, Kamal Bamadhaj, seorang pelajar ilmu politik dan aktivis HAM berbasis di Australia.

    Pembantaian ini disaksikan oleh dua jurnalis Amerika Serikat; Amy Goodman dan Allan Nairn; dan terekam dalam pita video oleh Max Stahl, yang diam-diam membuat rekaman untuk Yorkshire Television di Britania Raya. Para juru kamera berhasil menyelundupkan pita video tersebut ke Australia. Mereka memberikannya kepada seorang wanita Belanda untuk menghindari penangkapan dan penyitaan oleh pihak berwenang Australia, yang telah diinformasikan oleh pihak Indonesia dan melakukan penggeledahan bugil terhadap para juru kamera itu ketika mereka tiba di Darwin.

    Video tersebut digunakan dalam dokumenter First Tuesday berjudul In Cold Blood: The Massacre of East Timor, ditayangkan di ITV di Britania pada Januari 1992. Tayangan tersebut kemudian disiarkan ke seluruh dunia, hingga sangat mempermalukan permerintah Indonesia.

    Di Portugal dan Australia, yang keduanya memiliki komunitas Timor Timur yang cukup besar, terjadi protes keras.Banyak rakyat Portugal yang menyesali keputusan pemerintah mereka yang praktis telah meninggalkan bekas koloni mereka pada 1975. Mereka terharu oleh siaran yang melukiskan orang-orang yang berseru-seru dan berdoa dalam bahasa Portugis.

    Demikian pula, banyak orang Australia yang merasa malu karena dukungan pemerintah mereka terhadap rezim Soeharto yang menindas di Indonesia, dan apa yang mereka lihat sebagai pengkhianatan bagi bangsa Timor Timur yang pernah berjuang bersama pasukan Australia melawan Jepang pada Perang Dunia II.

    Meskipun hal ini menyebabkan pemerintah Portugal meningkatkan kampanye diplomatik mereka, bagi pemerintah Australia, pembunuhan ini, dalam kata-kata menteri luar negeri Gareth Evans, 'suatu penyimpangan'.

    Kejadian ini kini diperingati sebagai Hari Pemuda oleh Negara Timor Leste yang merdeka. Tragedi 12 November ini dikenang oleh bangsa Timor Leste sebagai salah satu hari yang paling berdarah dalam sejarah mereka, yang memberikan perhatian internasional bagi perjuangan mereka untuk merebut kemerdekaan.

    Pesan Perdana Menteri Timor Leste, Taur Matan Ruak kepada para pemuda-pemudi untuk tetap berdiri kuat ketika menghadapi tantangan.

    “Saya mau pesan kepada seluruh pemuda-pemudi yang tersebar di dalam negeri untuk memberi seluruh isi hati anda kepada belajar. Jikalau menghadapi suatu rintangan jangan mundur karena untuk memetik harus tanam, dan juga untuk menjadi orang pintar harus banyak belajar. Masa depan Timor-Leste ada di tangan generasi baru,” kata Matan Ruak.

    Pada tempat yang sama, Presiden Komite 12 November, Gregorio Saldanha meminta kepada seluruh pemuda-pemudi untuk tidak boleh ikut serta dalam konflik apapun tetapi harus mempomosikan dialog bilamana terjadi konflik. Dan juga meminta kepada semua pemimpin partai politik di Timor Leste untuk duduk bersama berdialog untuk menyelesaikan kebuntuan politik yang sedang terjadi di bumi Lorosa’e.

    Presiden Republik, Francisco Guterres Lu Olo juga meminta kepada seluruh pemuda-pemudi untuk tetap mempromosikan dialog.

    “Saya mendengar pesanan dari presiden komite 12 November tentang dialog,” kata Presiden Lu Olo memperingati tragedi Santa Cruz.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Modus Sejumlah Kepala Daerah dan Pejabat DPD Cuci Uang di Kasino

    PPATK menyingkap sejumlah kepala daerah yang diduga mencuci uang korupsi lewat rumah judi. Ada juga senator yang melakukan modus yang sama di kasino.