Trump Tuding Kapal Garda Revolusi Iran Serang Kapal Tanker

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Patrick Shanahan dan Donald Trump mengadakan rapat kabinet di Gedung Putih di Washington, AS 9 Mei 2018. REUTERS / Jonathan Ernst

    Patrick Shanahan dan Donald Trump mengadakan rapat kabinet di Gedung Putih di Washington, AS 9 Mei 2018. REUTERS / Jonathan Ernst

    TEMPO.CO, Dubai – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyalahkan Iran atas serangan yang terjadi pada dua kapal tanker di pintu masuk kawasan Teluk.

    Baca juga: Trump Sebut Korps Garda Revolusi Iran sebagai Organisasi Teroris

     

    Trump mengatakan sedang mencari konsesus dengan negara-negara lain soal adanya ancaman dalam pengiriman kapal di perairan ini.

    Pemerintah Iran telah membantah tudingan ini dan mengatakan negaranya menjadi kambing hitam.

    “Iran memang melakukannya dan Anda tahu mereka melakukannya karena Anda lihat kapalnya,” kata Trump kepada Fox News seperti dilansir Channel News Asia pada Jumat, 14 Juni 2019.

    Baca juga: Hukum Iran, Trump Peringatkan Pebisnis

    Trump mengatakan ini mengacu pada rekaman video yang dilansir militer AS pada Kamis kemarin. Rekaman video itu menunjukkan kapal milik pasukan Garda Revolusi Iran berada di balik ledakan yang terjadi di kapal asal Norwegia yaitu Front Altair dan sebuah kapal asal Jepang yaitu Kokuga Courageous. Insiden ini terjadi di Teluk Oman di pintu masuk kawasan perairan Teluk.

    Pemerintah Iran menanggapi dengan mengatakan rekaman video itu tidak menunjukkan apapun. “Tuduhan-tuduhan ini mengkhawatirkan,” kata Abbas Mousavi, juru bicara Kemenlu Iran.

    Iran juga telah membantah tuduhan sebelumnya dari AS soal insiden ledakan kapal di lepas pantai Uni Emirat Arab pada bulan lalu. Teheran menuding AS dan sekutu regional seperti Arab Saudi dan UEA ingin berperang dengan membuat berbagai tuduhan itu.

    Baca juga: Trump Putuskan Keluar dari Perjanjian Nuklir Iran

     

    Hubungan AS dan Iran memburuk pasca keluarnya AS dari Perjanjian Nuklir 2015, yang diteken oleh Presiden Barack Obama. Trump lalu membuat sejumlah keputusan berupa sanksi ekonomi kepada Iran seperti larangan pembelian minyak oleh negara lain hingga larangan penggunaan dolar.

    Iran mengatakan jika negaranya tidak bisa mengekspor minyak mentah ke negara lain maka negara Arab lain seperti Arab Saudi juga tidak bisa mengekspor minyak lewat Selat Hormuz.

    Trump mengatakan ingin bernegosiasi dengan Iran soal nuklir dan larangan pengembangan rudal balistik. Namun, Iran mengatakan tidak akan melakukan perundingan dengan AS kecuali Trump membalik keputusannya untuk keluar dari perjanjian nuklir 2015.

    Baca juga: Disebut Berselisih dengan Pejabatnya Soal Iran, Apa Kata Trump?

     

    Seorang pejabat AS mengatakan Iran menembakkan rudal darat ke udara ke arah sebuah pesawat drone AS, yang terbang di atas kapal tanker. Rudal itu tidak mengenai drone tadi.

    Sebuah kapal angkatan laut Iran berusaha memadamkan api dari sebuah kapal tanker terbakar di perairan Teluk Oman, 13 Juni 2019. Amerika Serikat, Inggris dan Arab Saudi menyalahkan Iran atas serangan dua kapal tanker tersebut. ISNA/Handout via REUTERS

    Menteri Pertahanan interim AS, Patrick Shanahan, mengatakan pemerintahan Trump berupaya membangun konsesus internasional pasca serangan yang dialami dua kapal tanker tadi.

    Saat ditanya apakah AS akan mengirim lebih banyak pasukan ke Timur Tengah, Shanahan mengatakan,”Seperti Anda tahu, kami selalu mempertimbangkan berbagai rencana darurat.” Ini untuk mengatisipasi jika kondisi memburuk. Baik Amerika dan Iran telah menyatakan tidak akan berperang meski terjadi eskalasi di kawasan ini, yang mengkhawatirkan sejulmah negara. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.