Trump Putuskan Keluar dari Perjanjian Nuklir Iran

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ibu Negara AS Melania Trump menyaksikan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Prancis Emmanuel Macron menanam pohon oak di halaman Gedung Putih di Washington, AS, 23 April 2018. Pohon oak yang ditanam tersebut merupakan pemberian dari Presiden Prancis Emmanuel Macron. AP Photo/Andrew Harnik

    Ibu Negara AS Melania Trump menyaksikan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Prancis Emmanuel Macron menanam pohon oak di halaman Gedung Putih di Washington, AS, 23 April 2018. Pohon oak yang ditanam tersebut merupakan pemberian dari Presiden Prancis Emmanuel Macron. AP Photo/Andrew Harnik

    TEMPO.CO, Washington – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memutuskan menarik diri dari perjanjian nuklir internasonal dengan Iran sehingga meningkatkan resiko konflik di Timur Tengah dan membuat kecewa sekutu Eropa.

    Keputusan ini juga menimbulkan ketidak-pastian atas suplai global minyak bumi.

    Dalam pernyataan yang disiarkan dari Gedung Putih, Trump mengatakan AS bakal mengenakan sanksi ekonomi kembali kepada Iran. “Perjanjian satu sisi yang buruk seharusnya tidak pernah dibuat,” kata Trump seperti dilansir Reuters, Selasa, 8 Mei 2018.

    Baca: Trump Minta Isi Perjanjian Nuklir Iran Diubah, Rusia Menolak

     

    Lima negara besar dan Iran menandatangani kesepakatan penghentian program pengayaan nuklir Iran, yang disebut Joint Comprehensive Plan of Action.

    Kesepakatan ini pada intinya menyatakan Iran bersedia untuk menghentikan semua program pengayaan nuklir, yang bisa digunakan untuk membuat bom nuklir, dan sebagai gantinya negara-negara besar membuka blokade ekonomi dan berbagai sanksi lainnya.

    Baca: Penasihat Donald Trump: Jangan Cabut Sanksi Ekonomi untuk Iran

     

    Kelima negara besar itu adalah AS, Cina, Inggris, Prancis, dan Rusia. Kelimanya mencapai kesepakatan dengan Iran di kota Wina, Austria pada 14 Juli 2015.

    Perjanjian ini dibuat pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama, yang didukung Partai Demokrat. Obama dan Partai Demokrat menyebut perjanjian itu sebagai terobosan untuk meredam peredaran senjata nuklir.

    Namun, Trump mengkritik kebijakan itu sejak masa kampanye Presiden AS 2016. Dia mengatakan akan menarik diri dari perjanjian itu jika terpilih menjadi Presiden.

    “Keputusan Trump ini membuat tegang hubungan trans-Atlantik (dengan negara-negara Uni Eropa) sejak dia dilantik 16 bulan lalu,” begitu dilansir Reuters.

    Sejumlah pejabat Eropa berupaya membujuknya untuk tetap mendukung perjanjian itu. Ini seperti Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dan Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson, yang datang ke Gedung Putih dua pekan terakhir.

    Media CBS melansir, intelejen AS telah memverifikasi kesepakatan itu merupakan cara efektif untuk mengontrol program pengembangan senjata nuklir Iran. Menurut CBS, Trump tidak menjawab pertanyaan media yang berteriak sambil bertanya bagaimana keputusan keluar dari kesepakatan itu bisa membuat AS menjadi lebih aman.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.