Donald Trump Ikut Prihatin Masalah Keselamatan Boeing 737 MAX 8

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden AS Donald Trump tiba di Bandara Internasional Noi Bai untuk melakukan pertemuan puncak kedua dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Hanoi, Vietnam 26 Februari 2019. Kim Jong Un datang ke Vietnam dengan mengenakan kereta api dalam perjalanan selama tiga hari. REUTERS/Leah Millis

    Presiden AS Donald Trump tiba di Bandara Internasional Noi Bai untuk melakukan pertemuan puncak kedua dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Hanoi, Vietnam 26 Februari 2019. Kim Jong Un datang ke Vietnam dengan mengenakan kereta api dalam perjalanan selama tiga hari. REUTERS/Leah Millis

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Donald Trump ikut prihatin atas isu keselamatan Boeing 737 MAX 8 setelah insiden Ethiopian Airlines Ahad kemarin.

    Di Twitter, Trump meragukan kemajuan teknologi penerbangan dan memilih teknologi sederhana asalkan aman.

    "(Teknologi) pesawat semakin rumit untuk terbang," kicau Trump pada Selasa, dikutip dari CNN, 13 Maret 2019.

    Baca: Sejumlah Negara Larang Terbang Boeing 737 MAX 8

    "Pilot tidak lagi dibutuhkan, ketimbang ilmuwan komputer dari MIT. Saya melihat ini semua di banyak produk. Selalu mencoba langkah maju yang sebetulnya tidak diperlukan, lebih tua dan sederhana jauh lebih baik. Dibutuhkan keputusan sepersekian detik, dan kerumitan menciptakan bahaya. Dari semua ini (kita) hanya mendapatkan sedikit keuntungan," lanjut Trump.

    Kicauan Trump muncul beberapa hari setelah kecelakaan maut kedua yang melibatkan Boeing 737 MAX 8. Kedua kecelakaan menewaskan seluruh penumpang dan awaknya.

    Bagaimanapun, Boeing, pembuat pesawat terbesar di dunia yang telah rugi miliaran dolar akibat nilai sahamnya jatuh setelah kecelakaan ini, mengatakan pihaknya memahami tindakan negara-negara yang menangguhkan pesawatnya, tetapi tetap yakin atas keselamatan 737 MAX.

    Baca: Saksi Lihat Pesawat Ethiopian Airlines Berasap Sebelum Jatuh

    Reuters melaporkan, otoritas keselamatan penerbangan Uni Eropa pada Selasa menangguhkan semua penerbangan Boeing 737 MAX 8 di Eropa. Senator AS yang memimpin panel yang mengawasi penerbangan menyarankan Amerika Serikat mengambil tindakan serupa setelah kecelakaan di Ethiopia yang menewaskan 157 orang.

    Suasana di lokasi kecelakaan Ethiopian Airlines ET 302, dekat kota Bishoftu, tenggara Addis Ababa, Ethiopia, Ahad, 10 Maret 2019. Pesawat Boeing 737-8 Max ini terjatuh setelah enam menit lepas landas dari bandara di Addis Ababa. REUTERS/Tiksa Negeri

    Inggris, Jerman, dan Prancis bergabung dengan gelombang negara-negara yang menahan penerbangan pesawat setelah kecelakaan Ahad kemarin, dan segera diikuti oleh keputusan yang sama oleh India.

    Belum ada bukti apakah penyebab dua kecelakaan (Ethiopian Airlines dan Lio Air) saling berkaitan. Pakar pesawat mengatakan masih terlalu dini untuk berspekulasi tentang penyebab kecelakaan itu. Sebagian besar disebabkan oleh rantai faktor manusia dan masalah teknis.

    Badan Keamanan Penerbangan Uni Eropa (EASA) mengatakan mereka menangguhkan semua penerbangan di blok jet Boeing 737 MAX 8 dan 9.

    "Berdasarkan semua informasi yang tersedia, EASA menganggap bahwa tindakan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk memastikan kelaikan udara lanjutan dari dua model yang mengalami kecelakaan," kata EASA.

    Baca: Menyusul Indonesia, Singapura Larang Terbang Boeing 737 MAX 8

    Sementara Otoritas Penerbangan Federal (FAA) AS tidak menuntut tindakan lebih lanjut terkait dengan operasi 737 MAX.

    Penerbangan Ethiopian Airlines ET 302 Boeing 737 MAX 8 jatuh di tanah lapang beberapa menit setelah lepas landas dari Addis Ababa, yang menewaskan delegasi PBB dan organisasi internasional, yang termasuk penulis, pejabat sepakbola, dan tim pekerja kemanusiaan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.